Ia tetap orang Tasik. Dengan bahasa Tasik. Dengan rasa Tasik. Dengan kerendahan hati yang khas Priangan Timur.
Media sosialnya? Jangan kira isinya drama. Justru lebih banyak aktivitas kecil: ketemu warga. Ngajak ngobrol anak muda. Ngisi kegiatan. Bantu acara. Kadang sederhana. Tapi nyata.
Ia seperti ingin menunjukkan bahwa kontribusi itu bukan soal panggung. Tapi soal kehadiran.
Baca Juga:Replik Jaksa, Tuntutan Endang Juta Tetap 5 Tahun PenjaraEnan Berkenan!
Dan semakin lama, orang memperhatikan. Bukan karena pencitraan. Tapi karena konsistensi.
Mungkin di situ bedanya. Banyak orang aktif ketika ada momen politik. Setelah itu hilang. Tapi Iwan seperti sudah tidak menjadikan politik sebagai satu-satunya panggung hidupnya. Ia berjalan saja. Mengalir. Tapi jelas.
Apakah ia masih punya ambisi politik? Entahlah. Hanya Tuhan dan hatinya yang tahu.
Tapi satu hal yang sudah terlihat: ia tidak menjadi pahit karena politik. Ia justru menjadi lebih matang. Lebih dewasa.
Dan ini pelajaran besar bagi banyak orang. Bahwa jabatan itu bukanlah satu-satunya alat untuk berbuat. Bahwa ketika kita kalah, dunia tidak runtuh. Bahwa kita bisa tetap berkontribusi—dengan cara kita sendiri. Dengan jaringan yang kita punya. Dengan ilmu yang kita miliki. Dengan keramahan yang kita bawa.
Tasikmalaya itu daerah yang halus. Orangnya peka terhadap sikap. Mereka tidak mudah percaya pada kata-kata. Tapi mereka bisa membaca ketulusan.
Dan sejauh ini, masyarakat melihat satu hal dari Iwan: ia tidak jatuh. Tidak patah. Tidak menyimpan dendam. Ia justru semakin membumi.
Apakah ia layak menjadi panutan? Banyak orang akan menjawab: iya.
Baca Juga:Saat Stadion Mangunrenja Menjadi Cermin Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya!Kang Dudu Rohman (KDR)!
Bukan karena ia sempurna. Tapi karena ia memberi contoh bahwa gagal itu bukan akhir. Bahwa kalah itu bukan aib. Bahwa manusia dinilai bukan dari berapa kali menang. Tapi dari bagaimana ia bersikap ketika kalah.
Dan kalau hari ini Anda melihat seorang pria yang tersenyum santai menyapa warga Tasikmalaya—mungkin itu Iwan.
Orang yang pernah kalah dua kali. Tapi justru menang dalam hal yang lebih besar: menang melawan dirinya sendiri. (red)
