Belajar Move On dari Iwan Saputra!

Iwan Saputra
Iwan Saputra (kanan) saat kegiatan bersih-bersih di Dadaha. (IST)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Ada orang yang kalau kalah, menghilang. Menutup pintu. Menyalahkan keadaan. Menyalahkan takdir. Menyalahkan semua orang—kecuali dirinya.

Tapi ada juga orang yang kalah, lalu tersenyum. Bangkit. Jalan lagi. Menyapa lagi. Berkegiatan lagi. Tanpa banyak drama. Tanpa banyak kalimat pembenaran.

Kategori yang kedua itu—namanya: H Iwan Saputra.

Ya. Iwan yang itu. Yang dua kali ikut tarung di Pilkada Kabupaten Tasikmalaya. Dan dua kali pula gagal. Dua kali pula merasakan pahitnya pemilu. Dua kali pula harus menerima kenyataan bahwa masyarakat memilih yang lain.

Baca Juga:Replik Jaksa, Tuntutan Endang Juta Tetap 5 Tahun PenjaraEnan Berkenan!

Tapi herannya, justru setelah itu ia makin sering turun ke masyarakat. Lebih sering terlihat di kampung-kampung. Di majelis. Di komunitas. Di kegiatan sosial. Bahkan di feed media sosialnya. Sekadar membagikan apa yang ia lakukan. Bukan membagikan rasa luka.

Dan yang menarik: gaya komunikasinya tetap “Tasik sekali”. Halus. Lembut. Santai. Tapi mengena. Humble. Tidak meledak-ledak. Tidak terbawa luka politik.

Seolah-olah ia ingin bilang: “Berbuat itu tidak harus duduk di kursi eksekutif. Tidak harus punya jabatan. Tidak harus punya stempel kekuasaan.”

Kita percaya, itu tidak mudah. Butuh mental besar untuk tersenyum setelah kalah. Apalagi kalah dua kali.

Di daerah seperti Tasikmalaya yang masyarakatnya sangat dekat secara sosial—kekalahan politik itu bukan hanya soal angka. Tapi juga soal perasaan. Soal harga diri. Soal bisik-bisik orang.

Tapi Iwan memilih jalan lain. Ia tidak menghabiskan waktu untuk marah. Tidak juga untuk menjauh. Ia memilih move on. Caranya? Memberikan motivasi. Menguatkan orang lain. Menguatkan dirinya sendiri.

Ini menarik. Biasanya orang yang gagal butuh orang lain untuk menguatkan dirinya. Tapi Iwan justru membaliknya. Ia menguatkan orang lain dulu. Dari situ, kekuatan untuk dirinya pelan-pelan kembali.

Baca Juga:Saat Stadion Mangunrenja Menjadi Cermin Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya!Kang Dudu Rohman (KDR)!

Apa itu tidak melelahkan? Tentu melelahkan. Tapi mungkin justru di situlah kedewasaannya.

Politik itu keras. Tapi Iwan memilih tetap lembut. Politik itu sering memecah. Tapi ia memilih tetap merangkul. Politik itu sering membuat orang berubah. Tapi ia memilih tetap menjadi dirinya sendiri.

0 Komentar