Saat Stadion Mangunrenja Menjadi Cermin Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya!

SOR mangunreja
riwayat pembangunan SOR Mangunreja Kabupaten Tasikmalaya. (ilustrasi grafis:radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Rumput liar itu tumbuh tanpa minta izin. Menjalar pelan, menyatu dengan beton tribun yang mulai berlumut.

Di kejauhan, lapangan yang dulu dirancang sebagai pusat kebanggaan olahraga Tasikmalaya kini lebih menyerupai padang yang ditinggalkan.

Itulah SOR Mangunreja saat ini—sebuah proyek besar yang dimulai 2014, dengan dana awal ratusan miliar rupiah, namun belum juga rampung. Waktu berjalan, anggaran berganti tahun. Yang paling setia tinggal di sana justru hujan, panas, dan angin.

Baca Juga:Kang Dudu Rohman (KDR)!PJU Tanjakan Tembungkerta Mati, DPRD Kota Banjar Minta Segera Diperbaiki

Pertanyaannya sederhana, apa yang seharusnya dilakukan Bupati dan Wakil Bupati terhadap SOR Mangunreja?

Masyarakat sudah terlalu sering mendengar janji. Terlalu sering pula diberi penjelasan yang berputar. Karena itu, langkah pertama yang paling mendesak sebenarnya bukan alat berat. Bukan juga tambahan dana.

Berapa dana yang sudah dihabiskan?

Di mana letak mandeknya? Adakah masalah hukum yang mengganjal? Apa konsekuensinya jika dibiarkan lebih lama?

Jawaban yang lugas akan mengembalikan satu hal yang kini mulai pudar: kepercayaan.

SOR Mangunreja bukan sekadar bangunan besar. Ia adalah aset negara. Dan aset negara harus dipastikan sehat—secara teknis, keuangan, dan hukum.

Audit teknis akan menjawab satu hal, apakah bangunan yang berdiri itu masih layak dilanjutkan?

Audit keuangan akan menjelaskan ke mana aliran dana berjalan. Audit hukum akan memberi kepastian: apakah ada pelanggaran, atau hanya persoalan administratif?

Baca Juga:Hendra Budiman dan Bisik-bisik yang Terlalu Besar!Pasal-Pasal Tetangga Nyusahin, Regulasi Hukum di Balik Pagar Rumah!

Audit bukan untuk mencari musuh. Audit adalah cara paling rasional untuk mencari jalan keluar.

Setelah semua data di tangan, tibalah saatnya pemerintah mengambil keputusan politik yang tegas.

Ada tiga jalan yang bisa ditempuh. Melanjutkan pembangunan hingga tuntas. Dengan desain yang diperbarui, anggaran realistis, dan jadwal yang terukur. Mengubah fungsi sebagian bangunan. Misalnya menjadi pusat kegiatan masyarakat, youth center, atau sentra industri olahraga atau Membekukan sementara. Namun ini pilihan yang paling menyakitkan, karena kerusakan hanya akan semakin besar. Yang dilarang hanyalah satu: membiarkannya tanpa keputusan.

Bupati dan Wakil Bupati bukan hanya administrator. Mereka adalah diplomat daerah. Jika ingin SOR Mangunreja kembali bernapas, maka lobi pendanaan harus dilakukan—ke provinsi, ke pusat, ke kementerian, bahkan ke skema kerja sama pemerintah–swasta.

0 Komentar