Deden mengungkapkan, persoalan parkir di Kota Tasikmalaya sejatinya masalah lama yang terus berulang karena lemahnya konsistensi dan pengawasan.
Ia mengaku turun langsung ke lapangan dan mendapati juru parkir sore hingga malam yang rutin menyetor, tetapi tidak dibekali atribut atau identitas resmi.
“Mereka setor iya, tapi tidak berbaju. Ini yang jadi tanda tanya, keistiqomahan Dishub soal parkir di mana?” tanyanya.
Baca Juga:Istri Wakil Wali Kota Tasikmalaya Mundur dari PKK, ini AlasannyaOperasi Pencarian Bocah Tenggelam di Kota Tasikmalaya Dihentikan, Posko Dibubarkan
Ia menyindir, jika parkir diproyeksikan sebagai penopang PAD, maka kebocoran elementer seharusnya dibereskan lebih dulu, bukan justru sibuk membangun sistem yang tampak ramai di permukaan.
“Jangan sistem yang seakan-akan booming, tapi dampaknya ke PAD tidak terasa,” ucapnya.
Deden bahkan mempertanyakan kejelasan status setoran juru parkir yang tidak memiliki identitas resmi.
“Setor iya, tapi statusnya abu-abu. Itu masuk PAD atau tidak? Wallahualam,” sindirnya.
Kondisi tersebut, kata dia, justru menempatkan juru parkir dalam posisi rawan dicap liar, meski kewajiban setor tetap berjalan.
Ia juga menyoroti pola Dishub yang dinilai terlalu terpusat di satu ruas jalan.
“Ini Kota Tasikmalaya, bukan Dishub HZ Mustofa. Parkir itu se-Kota Tasikmalaya,” tegasnya.
Baca Juga:Cegah Bencana Iklim, Gerindra Luncurkan Gerakan Tanam 1.000 Pohon di Kota TasikmalayaMikrobus Terbalik di Kota Tasikmalaya, Jalan Sewaka yang Licin Gagalkan Rencana Penumpang Berwisata
Menurut Deden, sosialisasi dan konten semata tak cukup tanpa perubahan nyata di lapangan.
Ia mendorong Dishub mengumpulkan seluruh juru parkir—baik resmi maupun belum—untuk diedukasi secara menyeluruh.
“Kalau koperasi Merah Putih saja bisa dikumpulkan dan diedukasi, masa juru parkir yang bersentuhan langsung dengan masyarakat tidak bisa?” sarannya.
Lebih jauh, Deden meminta Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan turun langsung ke lapangan melalui inspeksi mendadak.
“Jangan hanya duduk manis di ruangan ber-AC menerima laporan ABS, asal bapak senang,” pesannya.
Ia menegaskan, pembenahan parkir bukan soal konten atau seremonial program, melainkan keberanian membereskan persoalan dari akar.
Jika tidak, tiga program parkir hanya akan ramai di atas kertas, tetapi tetap bocor di jalanan.
“PAD diharapkan naik, maslahat diharapkan ada. Tapi kalau juru parkirnya saja tidak dibereskan, parkir tetap di tempat,” pungkasnya. (rezza rizaldi)
