“Enan mah aya wae,” kata seorang warga Bungursari. Selalu ada.
Ia berani mendengar keluhan. Lebih berani lagi bertanggung jawab. Tidak semua keluhan bisa langsung selesai. Tapi Enan tidak menghilang. Ia tetap datang. Tetap menyapa. Tetap tersenyum.
Mungkin karena ia lahir dari keluarga biasa. Ia tahu rasanya antre. Tahu rasanya menunggu. Tahu rasanya berharap.
Baca Juga:Saat Stadion Mangunrenja Menjadi Cermin Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya!Kang Dudu Rohman (KDR)!
Di gedung dewan, Enan dikenal cukup smart. Ia paham tupoksi. Tahu kapan bicara, kapan diam, dan kapan harus bersuara lebih keras.
Tapi di luar gedung, ia memilih menjadi dirinya sendiri: Enan yang mau duduk sejajar, bukan berdiri lebih tinggi.
Ia tidak membangun jarak. Ia membangun silaturahmi. Dengan siapa saja. Tanpa pilih-pilih. Visinya juga sederhana. Bahkan terlalu sederhana untuk ukuran politik hari ini: ingin bermanfaat lebih luas bagi masyarakat.
Tidak lebih. Tidak kurang. Mungkin karena itu pula, senyumnya tidak pernah dibuat-buat. Karena ia tahu, yang ia jalani bukan sekadar jabatan. Tapi amanah.
Dan amanah, kata Enan suatu kali, tidak perlu banyak gaya. Cukup dijalani. Dengan hati. Dan senyum. (red)
