TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Enan Suherlan tidak pernah membayangkan duduk di kursi dewan. Dulu ia lebih sering duduk di atas Vespa. Berboncengan dengan waktu. Berhenti di mana saja. Menyapa siapa saja.
Dari sanalah semuanya bermula. Hobinya bersosial. Hobinya hadir. Hobinya mendengar. Vespa tua itu menjadi saksi: Enan memulai dari bawah. Dari obrolan warung. Dari pengajian kampung. Dari undangan-undangan kecil yang sering dianggap sepele.
Enan adalah warga asli Cempak Warna, Cilembang. Ia tahu betul denyut kampungnya. Ia paham logat, paham keluhan, paham harapan. Barangkali itu pula yang membuat warga akhirnya memberi amanah: menjadi wakil mereka di DPRD Kota Tasikmalaya.
Baca Juga:Saat Stadion Mangunrenja Menjadi Cermin Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya!Kang Dudu Rohman (KDR)!
Amanah itu tidak ia anggap prestasi. Ia menyebutnya ujian. “Ini mah titipan,” begitu ia sering berkata.
Titipan yang kelak harus dipertanggungjawabkan. Bukan hanya di hadapan manusia. Tapi juga di hadapan Tuhan.
Enan tidak terlalu peduli bagaimana orang menilainya. Ia lebih sibuk memikirkan apa yang bisa ia perbuat. Karena, baginya, ukuran wakil rakyat bukan pujian. Tapi manfaat.
Lelaki yang hampir selalu hadir di setiap undangan dan pengajian itu tahu betul: menjadi anggota dewan bukan perkara jabatan. Itu mandat besar. Terlalu besar jika dijalani tanpa rasa. Terlalu berat jika tanpa hati. Dan terlalu berbahaya jika tanpa doa.
Maka Enan memilih berjalan pelan. Dengan Vespa. Dengan senyum. Dengan keyakinan. Jika amanah ini bisa menjadi amal ibadahnya, itu sudah lebih dari cukup.
Saat bertemu. Ia Menyapa. Tersenyum. Topi copet menempel di kepala. Sepatu Converse biru—yang itu-itu juga—menjejak aspal Cihideung. Kadang diganti kemeja flanel. Sederhana. Sangat sederhana.
Begitulah Enan Suherlan, anggota DPRD Kota Tasikmalaya. Wakil rakyat yang tidak ribet dengan simbol kekuasaan.
Baca Juga:PJU Tanjakan Tembungkerta Mati, DPRD Kota Banjar Minta Segera DiperbaikiHendra Budiman dan Bisik-bisik yang Terlalu Besar!
Warga di Dapil 1—Cihideung, Bungursari, dan Tawang—sudah hafal betul gaya Enan. Ia datang bukan membawa janji. Tapi telinga. Ia mendengar. Lama. Lalu mencatat. Setelah itu, ia kembali. Dengan jawaban. Atau setidaknya, dengan penjelasan.
Itu yang membuat namanya sering disebut warga. Bukan karena baliho. Bukan karena spanduk. Tapi karena kehadiran.
