TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Peristiwa hilangnya bocah 6 tahun di sekitar Kantor Kelurahan Tugujaya, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya, membuka kembali persoalan klasik: verifikasi bantuan sosial yang dilakukan di tengah cuaca buruk, minim pengawasan, dan lingkungan yang rawan.
Kasi Pemerintahan, Ketenteraman dan Ketertiban Umum Kelurahan Tugujaya, M Burhanudin SAg, memberikan klarifikasi atas kejadian tersebut.
Ia menegaskan, saat peristiwa terjadi, kelurahan tengah melakukan verifikasi ulang data Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bantuan sosial.
Baca Juga:TPG Guru dan Utang Belanja Jadi Sorotan Awal Tahun, BPKAD Kota Tasikmalaya Dipanggil Wali KotaSedekah Jumat Al-Mumtaz, Ribuan Nasi Box Disalurkan untuk Warga Kota Tasikmalaya
Menurut Burhanudin, kegiatan verifikasi telah diinformasikan sebelumnya kepada RW 01 dan diteruskan ke RT.
Namun, ia mengakui adanya potensi miskomunikasi di tingkat bawah.
“Dari kelurahan kami sampaikan ke RW dan ditembuskan ke RT bahwa ada verifikasi data KPM. Mungkin di lapangan ada miskomunikasi,” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).
Verifikasi dilakukan, kata Burhanudin, karena banyaknya data bantuan sosial yang tidak sesuai kondisi faktual.
Sejumlah warga masih tercatat sebagai penerima bantuan di Kelurahan Tugujaya, padahal sudah lama pindah domisili.
“Ada yang secara administrasi masih Tugujaya, tapi menurut RT sudah hampir tiga tahun tinggal di wilayah lain. KK dan KTP-nya belum berubah,” katanya.
Masalah serupa, lanjut dia, juga ditemukan pada data warga yang telah meninggal dunia, pindah tanpa kejelasan, atau keberadaannya tidak diketahui.
Kondisi itu mendorong kelurahan melakukan verifikasi langsung agar data bansos lebih akurat.
Baca Juga:Polres Tasikmalaya Kota Konsolidasi Internal: Puluhan Personel Naik Pangkat, Jabatan Kunci BergantiPagi Hari Awal Tahun Tanpa di Meja Dinas, ASN Kota Tasikmalaya Diajak Lari
Terkait hilangnya bocah 6 tahun tersebut, Burhanudin menyebut kejadian itu benar-benar di luar dugaan semua pihak.
Saat peristiwa terjadi, kegiatan verifikasi disebut sudah hampir rampung.
“Menjelang magrib, tinggal sekitar empat orang di lokasi,” ucapnya.
Pihak kelurahan, kata dia, tidak menyalahkan keluarga korban.
Situasi panik dinilai sangat mungkin terjadi, apalagi hujan deras masih mengguyur kawasan tersebut.
“Kami tidak menyalahkan keluarga. Dalam kondisi seperti itu, kepanikan sangat mungkin,” katanya.
Hingga malam hari, kelurahan mengaku belum menerima laporan adanya anak yang tersesat atau ditemukan warga sekitar.
Dari situ, dugaan sementara mengarah pada kemungkinan bocah tersebut jatuh ke saluran air dan terbawa arus.
