TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Kritik keras terhadap kepemimpinan di Kota Tasikmalaya kembali datang dari jalur seni dan kebudayaan.
Seniman Tasikmalaya, Ashmansyah Timutiah alias Acong, melontarkan sindiran telak kepada Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan.
Kritik ini bukan soal spanduk, kursi kehormatan, atau absensi di acara seremonial, melainkan soal yang jauh lebih prinsipil: apakah seorang pemimpin masih utuh sebagai manusia.
Baca Juga:TPG Guru dan Utang Belanja Jadi Sorotan Awal Tahun, BPKAD Kota Tasikmalaya Dipanggil Wali KotaSedekah Jumat Al-Mumtaz, Ribuan Nasi Box Disalurkan untuk Warga Kota Tasikmalaya
Pernyataan itu mencuat menyusul dinamika kegiatan kesenian tahunan Syukur Waktu yang digelar Komunitas Cermin Tasikmalaya sepanjang Desember 2025.
Bagi Acong, seni bukan sekadar hiburan akhir pekan, melainkan barometer kepekaan sosial.
Dan ketika seni diperlakukan seperti anak tiri, di sanalah watak kepemimpinan bisa terbaca dengan gamblang.
Dengan nada getir bercampur satire, Acong mempertanyakan relasi Wali Kota dengan dunia seni.
“Ari Viman Alfarizi teh teu ngarti kana seni atawa teu resep seni sugan, henteu ari ijid kana seni mah?” ujarnya, Sabtu (3/1/2026).
(“Apakah tidak paham seni, tidak menyukai seni, atau jangan-jangan malah alergi terhadap seni?”)
Namun Acong buru-buru menegaskan, perkara suka atau tidak suka seni sejatinya remeh.
Baca Juga:Polres Tasikmalaya Kota Konsolidasi Internal: Puluhan Personel Naik Pangkat, Jabatan Kunci BergantiPagi Hari Awal Tahun Tanpa di Meja Dinas, ASN Kota Tasikmalaya Diajak Lari
Selera pribadi, katanya, sah-sah saja—selama masih menjadi warga biasa.
Masalahnya, Viman Alfarizi bukan warga biasa.
“Kalau tidak suka seni, itu urusan pribadi. Tapi dia Wali Kota Tasikmalaya. Pejabat publik nomor satu. Ukurannya bukan lagi selera, tapi tanggung jawab,” katanya.
Menurut Acong, jabatan publik bukan ruang nyaman untuk memelihara preferensi pribadi.
Ketika seseorang duduk di kursi kekuasaan, ia tak lagi bebas memilih mana ruang yang ingin dihadiri dan mana yang ingin dihindari.
“Pejabat publik itu terikat pada publik. Ini bukan soal hobi. Ini bukan memilih ikut futsal atau nonton konser. Ini soal kehadiran di ruang sosial,” bebernya.
Dari situ, Acong menguliti satu gagasan besar yang jarang diucapkan terang-terangan: pemimpin seharusnya manusia paripurna. Bukan makhluk setengah jadi yang ditambal pencitraan.
“Wali Kota itu harus siap jadi manusia paripurna. Jabatan publik seharusnya hasil dari kualitas kemanusiaan yang utuh, bukan sekadar hasil kontestasi politik,” tegasnya.
