Namun di balik penjelasan medis itu, ada celah besar dalam layanan.
Kebutuhan dasar pasien tak seluruhnya terakomodasi sistem kesehatan formal.
Dinkes pun membuka donasi sukarela melalui puskesmas—jalan darurat untuk menambal kekosongan bantuan yang tak terjangkau BPJS.
Menjelang akhir hayatnya, Rusbandiyah bahkan membutuhkan transfusi enam labu darah.
Prosesnya tak sederhana.
Sejumlah kebutuhan medis dan logistik masih memerlukan biaya tambahan.
“Tos teu emut. Bantuan belum ada sama sekali. Ambulans ge sesah, da teu ka-cover BPJS,” ungkap warga dengan nada getir.
Kisah Rusbandiyah bukan sekadar cerita duka satu keluarga.
Baca Juga:TPG Guru dan Utang Belanja Jadi Sorotan Awal Tahun, BPKAD Kota Tasikmalaya Dipanggil Wali KotaSedekah Jumat Al-Mumtaz, Ribuan Nasi Box Disalurkan untuk Warga Kota Tasikmalaya
Ia menjadi potret buram tentang rapuhnya jaring pengaman sosial di Kota Tasikmalaya, terutama bagi warga miskin yang sakit berkepanjangan.
Enam tahun menahan nyeri, enam tahun hidup di ruang tunggu ketidakpastian—hingga akhirnya maut datang lebih dulu daripada kehadiran sistem yang benar-benar berpihak. (ayu sabrina barokah)
