Sakit Kronis dan Kemiskinan: Lansia Kota Tasikmalaya Meninggal Setelah Perawatan Terbatas

lansia meninggal Kota Tasikmalaya
Rusbandiyah, lansia Kampung Babakan Bandung, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya semasa hidup tergeletak, di ruang tamu rumahnya. Ayu Sabrina Barokah / Radar Tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Enam tahun terbaring tanpa perawatan medis memadai akhirnya berujung duka.

Rusbandiyah (59), seorang lansia dari Kampung Babakan Bandung, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, meninggal dunia setelah kondisinya memburuk dan dirawat beberapa hari di RSUD Kota Tasikmalaya, Selasa sore (30/12/2025).

Kematian Rusbandiyah menutup kisah panjang penderitaan yang selama ini berlangsung nyaris tanpa sorotan negara.

Baca Juga:TPG Guru dan Utang Belanja Jadi Sorotan Awal Tahun, BPKAD Kota Tasikmalaya Dipanggil Wali KotaSedekah Jumat Al-Mumtaz, Ribuan Nasi Box Disalurkan untuk Warga Kota Tasikmalaya

Ia hidup—dan sakit— di ruang tamu rumah sempitnya, tanpa ranjang medis, tanpa alat bantu, dan tanpa kepastian pengobatan lanjutan.

Beberapa hari sebelum meninggal, kondisinya kian kritis.

“Dua hari di RSUD. Awalnya engap, terus darahnya drop,” ujar Decky, warga yang mengikuti perkembangan kasus tersebut, Jumat (2/1/2026).

Rusbandiyah pertama kali menarik perhatian publik setelah Radar Tasikmalaya mengangkat potret kehidupannya: seorang perempuan yang tak lagi mampu bergerak sejak enam tahun lalu, dirawat sepenuhnya oleh sang suami, Dedi Rustandi (76), yang juga memiliki keterbatasan fisik.

Tangan kiri Dedi tak berfungsi normal, namun ia tetap menjadi satu-satunya perawat bagi istrinya—membersihkan tubuh, memberi makan, hingga mengganti kebutuhan dasar setiap hari.

Awal sakit Rusbandiyah ditandai keluhan air kencing keruh yang berulang, disusul nyeri hebat dan penurunan kondisi fisik drastis.

Waktu berjalan, sakit tak kunjung reda, dan tubuhnya perlahan kehilangan kemampuan bergerak.

“Sudah pernah berobat ke rumah sakit, tapi tetap seperti ini,” kenang Dedi lirih.

Baca Juga:Polres Tasikmalaya Kota Konsolidasi Internal: Puluhan Personel Naik Pangkat, Jabatan Kunci BergantiPagi Hari Awal Tahun Tanpa di Meja Dinas, ASN Kota Tasikmalaya Diajak Lari

Setelah itu, pengobatan berlanjut di rumah —bukan karena sembuh, melainkan karena tak ada pilihan lain.

Keluarga hidup dari penghasilan sederhana anaknya, satu-satunya penopang ekonomi.

Di tengah keterbatasan itu, kebutuhan pampers, sembako, dan obat pereda nyeri menjadi beban harian yang harus dihitung ketat.

Pemeriksaan lanjutan nyaris tak pernah dilakukan.

Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya sempat turun tangan.

Kepala Dinkes, dr. Asep Hendra Hendriana MM, menyebut kondisi Rusbandiyah berkaitan dengan saraf terjepit di tulang belakang yang menimbulkan nyeri kronis dan membuat pasien tak mampu duduk maupun berjalan.

“Penanganannya lebih ke fisioterapi dan obat nyeri. Operasi berisiko tinggi,” tuturnya.

0 Komentar