TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Curah hujan ekstrem kembali membuka borok persoalan banjir di Kota Tasikmalaya.
Hujan dengan intensitas hampir 103 milimeter—jauh melampaui ambang kewaspadaan 70 milimeter—membuat hampir seluruh saluran sungai dan drainase kota berada di titik kritis.
Air sungai naik drastis, nyaris sejajar dengan badan jalan, lalu meluap ke ruas-ruas vital dan permukiman.
Baca Juga:TPG Guru dan Utang Belanja Jadi Sorotan Awal Tahun, BPKAD Kota Tasikmalaya Dipanggil Wali KotaSedekah Jumat Al-Mumtaz, Ribuan Nasi Box Disalurkan untuk Warga Kota Tasikmalaya
Kepala Bidang Sumber Daya Air (SDA) Dinas PUTR Kota Tasikmalaya, Rino Isa Muharam, menyebut posisi geografis kota yang berada di wilayah hilir membuat dampak hujan di kawasan hulu tak terhindarkan.
Debit air dari atas langsung menumpuk di wilayah kota yang daya tampungnya terbatas.
“Hampir semua saluran kemarin penuh. Di beberapa titik, muka air sungai sudah nyaris sama tinggi dengan jalan,” ujar Rino, Sabtu (3/1/2026).
Dampak paling nyata terlihat di ruas jalan protokol.
Jumat (2/1/2025) sore, Jalan KHZ Mustofa dan Jalan Sutisna Senjaya sempat berubah menjadi kubangan air.
Genangan bertahan sekitar dua jam, mengganggu lalu lintas dan aktivitas warga.
Tak lama setelah kejadian, Dinas PUTR melakukan susur saluran sungai pada Sabtu (3/1/2026) untuk memetakan titik luapan dan mencari biang keladi banjir yang terus berulang setiap hujan lebat.
Hujan deras bukan satu-satunya penyebab.
Rino menegaskan, tumpukan sampah dan sedimentasi di saluran air menjadi faktor utama yang memperparah situasi.
Baca Juga:Polres Tasikmalaya Kota Konsolidasi Internal: Puluhan Personel Naik Pangkat, Jabatan Kunci BergantiPagi Hari Awal Tahun Tanpa di Meja Dinas, ASN Kota Tasikmalaya Diajak Lari
Aliran air tersendat, kapasitas sungai menyempit, dan luapan pun tak terelakkan.
“Kontribusi sampah dan sedimentasi sangat besar. Begitu debit naik, saluran yang tersumbat langsung meluap,” terangnya.
Masalah ini, kata Rino, bukan kejadian baru. Namun selalu berulang karena kesadaran pengelolaan sampah dan pemeliharaan saluran belum berjalan optimal.
Persoalan kian rumit karena keberadaan utilitas milik PLN dan PDAM yang melintas di badan sungai dan drainase.
Instalasi tersebut kerap menjadi jebakan sampah, mempercepat terjadinya sumbatan.
“Di titik utilitas itu sampah mudah menyangkut. Aliran air terhambat dan genangan cepat terjadi,” tambahnya.
Sebagai langkah darurat, Dinas PUTR menurunkan tim untuk membersihkan sumbatan di sejumlah titik rawan.
