Karena dalam birokrasi, tidak semua kekecewaan bisa disebut pelanggaran. Tidak semua ketidakpuasan bisa disebut kejahatan.
Kadang ada yang kecewa karena tidak dapat paket. Kadang ada yang sakit hati karena tidak diajak bicara. Kadang pula karena jaringan lama tidak lagi dipakai.
Itu manusiawi. Tapi berbahaya jika dibungkus seolah-olah penegakan hukum.
Hendra Budiman, sampai hari ini, tetap bekerja. Tidak ditahan. Tidak ditetapkan tersangka. Tidak juga dibersihkan namanya secara resmi. Ia berada di wilayah abu-abu: tidak bersalah, tapi terus dicurigai.
Baca Juga:Pasal-Pasal Tetangga Nyusahin, Regulasi Hukum di Balik Pagar Rumah!Ciamis Membuktikan: Dari Komitmen Jadi Prestasi, Rp24 Miliar Kembali untuk Rakyat!
Dan di negeri ini, wilayah abu-abu sering lebih melelahkan daripada vonis.
Publik sebenarnya sederhana. Tidak butuh drama. Tidak butuh spanduk malam hari. Yang dibutuhkan hanya dua hal: jelas atau selesai.
Kalau ada yang dimonopoli, tunjukkan apa dan di mana. Kalau tidak ada, hentikan bisik-bisiknya.
Karena kalau tidak, yang terus bergerak bukan hukum—melainkan gosip.
Dan gosip, seperti hujan deras, selalu jatuh ke tanah yang sama. Tapi tidak pernah menyisakan bangunan yang kokoh. (red)
