Sistem kandang dan lingkungan kerja dirancang inklusif, mulai dari jalur kursi roda hingga penanda khusus bagi tunanetra.
Pendampingan dari Majelis Pemberdayaan Masyarakat PP Muhammadiyah dan dukungan Lazismu menjadi fondasi kuat dalam pengembangan usaha ini.
Pelatihan teknis, manajemen, dan pemasaran disiapkan sejak awal agar usaha berjalan berkelanjutan.
Baca Juga:Poco M7 Pro 5G Turun Harga, Pilihan Masuk Akal di Tengah Pasar Smartphone yang Kian MahalTecno Pova Slim 5G Membuka Tren Baru Smartphone Ultra Slim Tanpa Mengurangi Daya Tahan Baterai
Kini permintaan telur terus meningkat hingga mengalami kondisi overorder dari berbagai institusi.
Keberhasilan ini mendorong rencana ekspansi dengan penambahan populasi ayam hingga 3.000 ekor pada 2026.
Langkah tersebut diharapkan membuka lapangan kerja baru dan memperluas dampak ekonomi lokal.
Model ini membuktikan bahwa usaha ternak ayam berkelanjutan tidak selalu membutuhkan modal besar, tetapi komitmen dan ilmu yang tepat.
Kesejahteraan ayam, kesehatan konsumen, dan kemandirian ekonomi dapat berjalan seiring dalam satu ekosistem usaha.
Kisah Pasutri Difabel ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan fisik bukanlah batas untuk berinovasi dan berdaya.
Dari kandang sederhana di Sleman, lahir inspirasi nasional tentang ekonomi inklusif yang bermakna.
