Refleksi Pergantian Tahun: Memoles Kembali Kaca Partai Politik yang Mulai Buram!

partai politik di tahun baru 2026,
gambar ilustrasi: AI
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pergantian tahun selalu punya cara sendiri untuk membuat kita menunduk. Kadang menengadah. Kadang merenung.

Tahun berganti, tapi tradisi tetap sama: partai politik pun ikut sibuk. Bukan hanya menyusun target kursi, tapi juga—ini yang lebih penting—menyusun ulang citra.

Maka lahirlah berbagai kegiatan. Ada doa bersama anak yatim. Ada penanaman pohon. Ada foto bersama plakat bertuliskan “Peduli Lingkungan”. Semua tampak hangat. Teduh. Penuh senyum.

Baca Juga:Sepanjang 2025, Kejari Garut Setor Ke Kas Negara Hingga Rp 2 miliar LebihDua Wajah Kontras Kota Santri!

Apalagi setelah beberapa bulan terakhir, sejumlah kader partai sering kali terpeleset. Bukan di jalan berlubang. Tapi di kalimat. Di mikrofon. Di kamera. Blunder—kata orang kota. Kepleset lidah—kata orang kampung. Apa pun istilahnya, publik mencatat.

Dan publik, seperti kita tahu, tidak lagi punya memori selemah tahun-tahun lalu. Sekarang semua terekam. Diarsipkan. Diulang-ulang. Dipotong. Dipasang lagi. Disimpan di ponsel. Diunggah. Dibaca orang. Dibahas orang. Bahkan dijadikan bahan bercanda saat nongkrong.

Maka pergantian tahun menjadi momen yang dianggap tepat: memoles kembali kaca yang mulai buram. Menghangatkan kembali tangan yang mulai terasa dingin oleh jarak dengan rakyat. Doa bersama anak yatim menjadi bagian dari itu. Menanam pohon pun ikut dipilih.

Saya suka bagian menanam pohon itu. Pohon tidak bisa dibohongi. Kalau ditanam sungguh-sungguh, ia tumbuh. Kalau hanya sekadar untuk kamera, biasanya mati duluan sebelum caption-nya basi.

Semua itu terjadi ketika di beberapa daerah, orang-orang justru sedang menahan napas. Bencana datang lagi. Di Aceh. Di Sumatera. Di tempat lain juga. Rumah hanyut. Air naik. Tanah bergerak. Orang-orang kembali belajar arti kata “bertahan”.

Di saat seperti itu, kegiatan partai terlihat kontras. Tapi bukan berarti salah. Justru di situ tantangannya. Bagaimana doa bersama dan penanaman pohon itu tidak berhenti di spanduk. Tidak berakhir di siaran pers. Tidak menguap di ucapan kalimat “semoga bermanfaat”.

Publik tidak lagi minta banyak. Hanya satu: konsistensi. Kalau bicara peduli, ya peduli benar. Kalau bilang bersama rakyat, ya benar-benar bersama. Bukan hanya di depan kamera dan bukan hanya saat tahun hampir berganti.

0 Komentar