Sensor utama 200 MP memang terdengar impresif, namun konfigurasi tanpa lensa telefoto membatasi eksplorasi fotografi.
Hasil foto di kondisi cahaya cukup tampil tajam, tetapi variasi sudut pengambilan gambar menjadi kurang maksimal.
Kemampuan video yang terbatas pada 4K 30 fps menempatkannya sebagai perangkat yang lebih fokus pada konsumsi visual ketimbang produksi konten.
Baca Juga:Nubia Air disebut Membawa Standar Baru Smartphone Tipis dengan Ketahanan di Atas Rata-rataTablet Kerja Ekstrem, Samsung Galaxy Tab Active 5 Pro, Saat Produktivitas Tak Boleh Tumbang di Lapangan
Kompromi tersebut terasa kontras dengan kekuatan layar yang justru sangat mendukung aktivitas multimedia.
Xiaomi tampak menyeimbangkan biaya produksi dengan tetap menjaga identitas premium seri Note.
Strategi ini menjadikan varian global lebih relevan bagi pengguna yang mengutamakan desain dan kenyamanan visual.
Di tengah pasar yang padat, perangkat ini hadir sebagai pilihan rasional dengan karakter jelas.
Redmi Note 15 Pro Plus pada akhirnya menjadi cerminan arah Xiaomi yang lebih berhitung dalam menawarkan nilai di kelas menengah.
