IBU, Sudah Jatuh Tertimpa Tangga, Tragedi Keluarga Jadi Cermin Kegagalan Relasi Rumah Tangga

tragedi keluarga
Hj Affi Endah Navillah
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Kasus tewasnya seorang ibu yang diduga dibunuh putrinya sendiri yang masih berusia 12 tahun mengguncang nurani publik. Peristiwa ini menyedot perhatian luas, bukan hanya karena pelakunya anak di bawah umur, tetapi juga karena latar belakang keluarga yang selama ini terlihat baik-baik saja.

Aktivis Perempuan Tasikmalaya, Hj Affi Endah Navillah, menilai tragedi tersebut tidak bisa dilihat secara sederhana sebagai luapan emosi sesaat akibat persoalan sepele, seperti penghapusan aplikasi game online dari telepon genggam.

Menurutnya, kasus ini merupakan akumulasi panjang dari kekerasan emosional dalam keluarga yang tidak pernah diselesaikan secara sehat.

Baca Juga:Dua Wajah Kontras Kota Santri!Debu Penggilingan Batu Menyelimuti Permukiman, Warga Brigjen Wasita Kusuma Terkena Dampak!

“Ini bukan soal game. Ini soal relasi dalam keluarga yang timpang dan penuh tekanan. Anak tumbuh dalam situasi konflik orang tua, kekerasan verbal, bahkan fisik. Rumah yang seharusnya aman justru menjadi sumber trauma,” ujar Affi, Rabu (31/12/2025).

Ia menegaskan, kekerasan terhadap anak tidak selalu berbentuk fisik. Bentakan, kata-kata kasar, hinaan, hingga suasana rumah yang terus-menerus tegang merupakan kekerasan emosional yang sering diremehkan. Padahal, dampaknya bisa jauh lebih dalam dan berbahaya.

Affi menyoroti relasi suami-istri sebagai fondasi utama ketahanan keluarga. Relasi yang sehat, kata dia, harus dibangun atas dasar kesalingan, bukan ketimpangan peran. Namun realitas di lapangan menunjukkan, beban pengasuhan dan pekerjaan domestik masih banyak ditumpukan sepenuhnya kepada ibu.

“Kelelahan ibu, baik fisik maupun emosional, sering dianggap hal biasa. Padahal ini kelelahan struktural. Ibu yang kelelahan akan kehilangan ruang memulihkan diri, mudah tersulut emosi, dan anak-anak yang paling sering menjadi sasaran,” tuturnya.

Menurut Affi, banyak tragedi keluarga lahir bukan dari niat jahat, melainkan dari ketimpangan peran yang dinormalisasi. Ketika ayah absen dari pengasuhan dan ibu dipaksa menanggung semuanya sendirian, relasi keluarga menjadi rapuh, meski dari luar tampak harmonis.

“Anak yang tidak memiliki ruang aman untuk bercerita akan memendam marah dan kecewa. Ketika tekanan itu tak tertampung, ledakan bisa terjadi dengan cara yang bahkan tidak ia pahami,” katanya.

0 Komentar