Kepercayaan bahwa kerja sunyi, bila dilakukan terus-menerus, pada akhirnya akan terlihat.
Kepercayaan bahwa pembangunan bukan hanya diukur dari beton dan aspal, tetapi juga dari cara kita menjaga bumi.
Dalam beberapa tahun terakhir, isu lingkungan menjadi perhatian serius. Perubahan iklim, sampah plastik, lahan kritis — semuanya terasa nyata.
Baca Juga:Refleksi Pergantian Tahun: Memoles Kembali Kaca Partai Politik yang Mulai Buram!Sepanjang 2025, Kejari Garut Setor Ke Kas Negara Hingga Rp 2 miliar Lebih
Dan di tengah kegelisahan itu, Ciamis memilih langkah sederhana namun tegas: menata dari hal-hal yang paling dekat dengan kehidupan warganya.
Bagi Ciamis, panggung Sabuga mungkin hanya sebuah persinggahan. Sebab penghargaan itu bukan garis akhir — tapi pengingat bahwa pekerjaan justru baru dimulai.
Bagaimana memastikan program lingkungan tetap hidup tanpa henti?
Bagaimana hadiah miliaran rupiah itu kembali dalam bentuk kemanfaatan bagi rakyat? Itulah pertanyaan yang kini menyertai perjalanan berikutnya.
Namun setidaknya malam itu, Ciamis membuktikan satu hal: bahwa komitmen yang tulus tidak pernah mengkhianati hasil.
Dan dari Bandung, kabar baik itu pulang ke Tatar Galuh — bersama harapan bahwa prestasi ini akan tumbuh seperti pohon yang terus diberi air: pelan, tenang, tapi pasti. (red)
