CIAMIS, RADARTASIK.ID — Malam itu, langit Bandung terasa biasa saja. Namun di dalam Gedung Sabuga ITB, Selasa (30/12/2025), suasananya berbeda.
Nama Kabupaten Ciamis berulang kali disebut dari panggung utama. Bukan satu, bukan dua — tapi rangkaian penghargaan prestisius yang total nominal hadiahnya mencapai Rp24 miliar.
Sorot lampu, tepuk tangan, dan wajah-wajah sumringah itu menjadi puncak dari perjalanan panjang: komitmen dan konsistensi dalam pengelolaan kebersihan, pelestarian lingkungan, pendidikan, pertanian, hingga penguatan peran masyarakat.
Baca Juga:Refleksi Pergantian Tahun: Memoles Kembali Kaca Partai Politik yang Mulai Buram!Sepanjang 2025, Kejari Garut Setor Ke Kas Negara Hingga Rp 2 miliar Lebih
Di antara tamu undangan, Bupati Ciamis Dr. H. Herdiat Sunarya duduk tenang. Di sampingnya, Ketua TP-PKK dan sejumlah kepala perangkat daerah ikut hadir.
Mereka tak banyak bicara — mungkin karena capaian ini sudah berkata-kata lebih keras daripada seribu pernyataan.
Salah satu momen paling berkesan terjadi ketika Gubernur Jawa Barat menyerahkan Penghargaan Makuta Binokasih 2025 kepada Ciamis.
Penghargaan ini bukan sekadar piagam dan simbol. Di baliknya ada pengakuan atas kinerja terbaik daerah dalam menjaga kebersihan dan lingkungan hidup — lengkap dengan hadiah Rp15 miliar.
Uang itu memang besar. Namun lebih besar lagi cerita yang menyertainya: bagaimana Ciamis menata persampahan, menjaga sungai, mendukung gerakan masyarakat, hingga mendorong budaya hidup bersih dari desa ke desa.
Semua proses itu tidak terjadi dalam sehari. Ia tumbuh pelan, seperti pohon yang dirawat, disiram, dan dijaga agar berbuah pada waktunya.
Keberhasilan ini, bagi sebagian orang, mungkin terlihat seperti hasil satu-dua program saja. Tapi sesungguhnya lebih luas dari itu.
Baca Juga:Dua Wajah Kontras Kota Santri!Debu Penggilingan Batu Menyelimuti Permukiman, Warga Brigjen Wasita Kusuma Terkena Dampak!
Ada petani yang terus didampingi agar lahan tetap lestari. Ada sekolah yang ditanamkan budaya cinta lingkungan.
Ada kader PKK yang menyapa warga sambil membawa pesan hidup bersih.
Ada pemerintah daerah yang memilih membangun kesadaran, bukan sekadar menegakkan aturan.
Maka ketika penghargaan demi penghargaan diserahkan di panggung Sabuga, publik melihatnya sebagai buah dari kebersamaan. Pemerintah, masyarakat, dan dunia pendidikan—masing-masing memberi peran.
Total Rp24 miliar insentif yang berhasil dibawa pulang tentu menjadi kabar baik bagi keuangan daerah. Namun lebih dari itu, ia adalah bukti kepercayaan.
