Namun demikian, ia menyayangkan kinerja Perumda Galuh Perdana yang belum lama berdiri justru terhenti di tengah jalan. Menurutnya, jajaran pengurus seharusnya memiliki semangat kewirausahaan agar penyertaan modal yang diberikan bisa dikelola dan dikembangkan secara optimal.
“Akan tetapi kepengurusan kemarin, hasilnya diawal-awal belum menunjukkan perkembangan yang bagus. Walaupun sudah ada hasilnya cuman tidak sebanding biaya operasional yang ditanggung Perumda Galuh Perdana, mulai dari bayar gaji tenaga kerja dan operasional lainnya,” katanya.
Saat ditanya mengenai sisa penyertaan modal pemerintah daerah, Heri menyebutkan bahwa saat ini masih dalam proses audit. “Oleh karenanya mohon maaf belum bisa disampaikan,” ujarnya.
Baca Juga:GP Ansor Kabupaten Tasikmalaya Kuatkan Kader, Gelar Konsolidasi Organisasi di Enam ZonaAnggota DPRD Kabupaten Tasikmalaya Aldira Yusup Soroti Penutupan Tambang Emas: WPR Belum Dirasakan Rakyat!
Pelaksana Tugas Direktur Utama Perumda Galuh Perdana, Herdiana, mengungkapkan bahwa kinerja keuangan perusahaan masih mengalami kerugian karena permodalan tidak sesuai dengan rencana bisnis yang telah disusun.
Mestinya, kata Herdiana, Perumda Galuh Perdana memiliki modal dasar dari Pemerintah Kabupaten Ciamis sebesar Rp 20 miliar, dengan skema penyertaan modal minimal Rp 2 miliar per tahun.
“Kalau bisnis Perumda Galuh Perdana arahnya ke pertanian dengan rencana mendapatkan modal minimal Rp 2 miliar per tahun. Akan tetapi realisasi turunnya permodalan baru Rp 950 juta tahun 2023, karena kondisi keuangan daerah yang sedang defisit, mungkin akibat dampak Covid 19 keuangan daerah terganggu,” katanya kepada Radar, Senin (2/6/2025).
Menurutnya, sebagai Perumda yang masih baru, keterbatasan modal menyebabkan pertumbuhan usaha berjalan lambat dan target bisnis belum tercapai.
“Karena posisinya penyertaan modal yang diberikan pemerintah Kabupaten Ciamis tidak sesuai akhirnya targetnya belum terkejar,” ujarnya.
Ia memaparkan, total kerugian Perumda Galuh Perdana hingga akhir 2023 dan 2024 mencapai sekitar Rp 400 juta. Padahal, omzet transaksi penjualan per tahun mencapai Rp 4,6 miliar, dengan margin keuntungan sekitar 2 persen dari komoditas jagung, sehingga laba kotor pada 2024 hanya sekitar Rp 100 juta.
“Hasil Perumda Galuh Perdana awalnya sering menyuplai jagung 10 ton per ton seminggu, dengan suplai sesuai kemampuan ke peternak ayam. Akan tetapi seiring berjalan waktu dana semakin sedikit, sehingga tidak bisa rutin dan ditambah petani jantung sudah banyak memiliki pengepulnya sendiri,” katanya.
