Akhir tahun biasanya penuh resolusi. Diet. Lebih rajin olahraga. Lebih sering menabung. Lebih jarang marah-marah di media sosial. Tapi dua peristiwa ini seperti memaksa kita membuat resolusi yang lain.
Bukan hanya bagaimana kita terlihat. Tapi bagaimana kita sebenarnya hidup.
Karena di Kota Santri seperti juga di kota lain — iman tidak cukup ditulis di baliho. Ia harus hidup di hati, di rumah, di layar ponsel, di transaksi, di pilihan-pilihan kecil yang tidak ada saksinya.
Dan malam tahun baru itu tetap akan datang. Kembang api tetap akan dinyalakan. Doa tetap akan dipanjatkan. Sementara dua peristiwa ini pelan-pelan akan masuk arsip berita.
Baca Juga:Debu Penggilingan Batu Menyelimuti Permukiman, Warga Brigjen Wasita Kusuma Terkena Dampak!Jalani Sidang Pledoi, Endang Juta Minta Dibebaskan dari Segala Tuntutan
Tapi semoga tidak masuk arsip hati. Tasikmalaya sudah memberi kita cermin. Tinggal kita yang memilih: bercermin sungguh-sungguh, atau sekadar lewat sambil merapikan rambut. (red)
