TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Saya selalu percaya, kota punya cara sendiri untuk berbicara.
Ada kota yang bicara lewat musik. Ada yang lewat kemacetan. Ada juga yang bicara lewat kejadian-kejadian kecil yang kita kira kebetulan.
Tasikmalaya memilih cara yang lain. Yakni diingatkan lewat kontras.
Menjelang satu hari sebelum pergantian tahun, kota ini seperti duduk di antara dua kursi.
Baca Juga:Debu Penggilingan Batu Menyelimuti Permukiman, Warga Brigjen Wasita Kusuma Terkena Dampak!Jalani Sidang Pledoi, Endang Juta Minta Dibebaskan dari Segala Tuntutan
Di satu sisi, langitnya dipenuhi doa. Di sisi lain, notifikasinya berisi berita penangkapan.
Di sebuah kegiatan silaturahmi DKM, seorang peserta nadom tauhid wafat. Meninggal dalam keadaan berzikir.
Di masjid. Di tengah lantunan kalimat tauhid.
Banyak orang menyebutnya husnul khatimah. Saya tidak berani berkomentar. Hidup dan mati urusan Tuhan. Kita hanya bisa menunduk, lalu berdoa.
Beberapa jam atau mungkin beberapa ruas jalan dari sana, polisi membongkar kasus prostitusi online.
Di Kota Santri. Kota yang spanduknya penuh kata religius. Kota yang masjidnya tak pernah sepi. Tapi di ponsel sebagian warganya, kehidupan berjalan dengan logika yang lain.
Kita pun bertanya dalam hati. Apakah ini ironi? Atau hanya potret jujur sebuah kota yang sedang tumbuh?
Hidup memang tidak pernah tunggal. Satu orang sedang berdzikir dengan khusyuk. Yang lain sedang asyik menatap layar. Yang satu sedang merapikan sajadah. Yang lain sedang merapikan tarif.
Baca Juga:UMK Jawa Barat 2026: Pangandaran Termangu, Bekasi Tersenyum!Tambang Ilegal Tinggalkan Luka Lingkungan, Endang Juta Dituntut 5 Tahun Penjara!
Semuanya dalam satu kota. Satu udara. Satu jalan. Satu julukan: Kota Santri.
Label itu berat. Kadang terlalu berat untuk dipikul oleh manusia yang tetap manusia. Punya iman, tapi juga punya godaan. Punya masjid, tapi juga punya marketplace. Punya kegiatan dakwah, tapi juga punya grup chat yang tidak pernah siap diperiksa.
Saya membayangkan langit Tasikmalaya sore itu. Mungkin diam. Tidak ikut berkomentar. Hanya mendengar. Sementara kita di bumi seperti biasa–ramai berdebat.
Ada yang berkata: “Ini tanda kemuliaan.”
Ada yang membalas: “Ini tanda kemunduran.”
Padahal tanda-tanda itu mungkin hanya ingin menyampaikan satu hal yang sederhana. Bahwa manusia selalu hidup di antara dua pilihan. Dan Tasikmalaya sedang memperlihatkannya dengan sangat jelas.
