Theo Hernandez: Beberapa Orang di AC Milan Tak Senang Lihat Saya Memakai Kaos Paolo Maldini

Paolo Maldini dan Theo Hernandez
Paolo Maldini dan Theo Hernandez Tangkapan layar X
0 Komentar

“Selain Zlatan, saya merasakan kurangnya milanismo,” lanjut Theo, menyinggung sosok Ibrahimovic sebagai satu-satunya figur yang benar-benar menjaga roh klub di ruang ganti.

Theo juga mengenang masa-masa penting di era Stefano Pioli dan Ibrahimovic.

Ia menggambarkan Ibrahimovic sebagai figur keras namun protektif.

“Dalam latihan, Zlatan benar-benar ‘menghancurkan’ kami, tapi itu untuk kebaikan kami,” katanya.

Baca Juga:Allegri Batalkan Niat AC Milan Barter Pemain dengan JuventusBeppe Marotta Tak Akan Halangi Frattesi Jika Ingin Pindah ke Juventus

Sementara Pioli, menurut Theo, menunjukkan sisi kepemimpinan yang berbeda yang membuat mereka kemudian meraih scudetto.

“Setelah kekalahan 0-5 dari Atalanta di Bergamo, Pioli membalik keadaan kami sepenuhnya. Saya masih ingat pidato-pidatonya dan ketenangannya. Scudetto 2022 lahir dari kekalahan itu,” kenang Theo.

Baginya, periode tersebut adalah masa emas yang sulit terulang.

“Kami seperti keluarga. Itu tahun-tahun magis, penuh emosi dan tak terlupakan,” tambahnya, sembari mengenang awal kariernya di Milan yang tidak mudah, termasuk masa ketika ia jarang dimainkan di era Giampaolo.

Berbicara tentang Milan saat ini, Theo juga memberikan pujian kepada Rafael Leao meski merasa mantan rekannya itu tak cocok jai striker tengah.

“Dia pemain yang luar biasa kuat. Tapi kadang pikirannya seperti tidak ada di lapangan. Dulu, saya dan dia di sisi kiri sangat mematikan. Karena itu, saya tidak melihatnya cocok sebagai penyerang tengah,” paparnya.

Soal Mike Maignan, Theo menyebut situasi sang kiper mirip dengan apa yang pernah ia alami sendiri di Milan yang berakhir tidak baik.

“Situasinya mirip dengan saya, dan itu tidak berakhir baik,” kata Theo.

Baca Juga:Bergomi Akui Kemenangan Inter di Kandang Atalanta Berbau KeberuntunganImpian Ronaldo Sebelum Pensiun: Patahkan Rekor Gelar Lionel Messi

“Apakah saya bek kiri terbaik di Serie A saat itu? Ya,” pungkassnya.

Pengakuan Theo Hernandez ini membuka sisi lain dinamika internal Milan yang dianggap mulai kehilangan identitas dan keputusan yang terkadang meninggalkan luka.

Cerita Theo juga menegaskan bahwa di balik taktik dan hasil, sepak bola juga tentang nilai dan rasa memiliki yang mungkin bisa membuat Maignan pergi.

0 Komentar