Politik Call Center dan Hotel yang Salah Alamat!

H Amir Mahpud ketua Gerindra Jawa Barat
H Amir Mahpud, Ketua DPD Gerindra Jawa Barat saat menyampaikan sambutan dalam salah satu acara, pada Sabtu 20 Desember 2025. (IST)
0 Komentar

“Jangan ikuti yang terdahulu,” tambahnya.

Kalimat itu terdengar seperti nasihat ayah kepada anak. Tidak marah. Tapi tegas. Karena sejarah sering berulang bukan karena lupa, tapi karena merasa aman.

Di depan para ketua partai se-Kota Tasikmalaya, H Amir memilih merangkul.

“Kita ini sahabat,” katanya.

“Di Indonesia itu sebenarnya tidak ada oposisi. Kita sudah bergabung. Tinggal bagaimana Kota Tasik jadi lebih baik.” pesannya.

Baca Juga:Ibu, Ibu, Ibu dan Festival Rasa Bersalah Nasional!Jabar Tertinggi Realisasi Kredit Perumahan, Moratorium Izin oleh KDM Disorot Pemerintah Pusat

Kalimat itu mungkin tidak disukai oleh penganut demokrasi garis keras. Tapi begitulah realitas politik lokal: terlalu kecil untuk terus bertengkar, terlalu penting untuk gagal.

Ia lalu memberi pujian yang tidak biasa.

“Kapolres luar biasa,” katanya.

“Menurut saya, ini Kapolres terbaik sepanjang sejarah. Sampai ketemu nanti di Istana.” ungkapnya memuji.

Entah bercanda. Entah serius. Tapi kalimat itu menunjukkan satu hal: H Amir tahu kapan harus mengkritik, kapan harus mengapresiasi.

Ia lalu kembali ke masa lalu. Seperti membuka album lama. Zaman Orde Baru, katanya, cuma ada tiga partai. Reformasi datang.

Ia ikut. PPP, PBR, Demokrat, PAN, Reformis—semuanya pernah ia singgahi. Bukan karena lompat-lompat, tapi karena ia melihat politik dari dekat. Terlalu dekat, mungkin.

“Saya masuk Gerindra bukan ke pusaran politik,” katanya. “Tapi bisnisnya. Dengan Pak Jojohadikusumo.” tambahnya.

Sampai akhirnya 2014. Ia dipanggil Prabowo Subianto ke Kertanegara. Ditawari macam-macam: struktur, eksekutif, legislatif. Ia menolak. Sampai akhirnya mandat datang. Tidak bisa diabaikan.

Baca Juga:Satu Nama Masuk Dua Kandidat Eselon II karena Berdasarkan Rumpun dan Manajemen TalentaPertashop Bantarsari Kota Tasikmalaya: BBM Lebih Dekat, Layanan Lebih Layak

“Dua puluh tujuh kota saya lalui,” katanya. “Dan menang,”tegasnya meyakinkan publik.

Ia tersenyum kecil. Seperti orang yang sudah tahu akhir cerita, tapi tetap memilih menceritakannya ulang.

Pesannya ditutup dengan kalimat yang paling jujur hari itu. “Mumpung para politisi ada di sini,” katanya.

“Politik itu call center. Kalau mau kaya, jadilah pengusaha. Kalau sudah kaya, silakan masuk Gerindra,” Kelakarnya.

Ruangan kembali tertawa. Kali ini lebih keras. Karena sindirannya terasa, tapi jalannya masih terbuka.

0 Komentar