Ketika Enam Tahun Terbaring Sakit, Sepasang Lansia Bertahan dalam Sunyi di Kota Tasikmalaya

lansia sakit menahun di Kota Tasikmalaya
Kondisi Dedi Rustandi (76) dan Rusbandiyah (59), warga Mangkubumi Kota Tasikmalaya saat ditemui di rumahnya, Senin 22 Desember 2025. ayu sabrina / radar tasikmalaya
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID — Di sebuah rumah sederhana di Kampung Babakan Bandung, Kelurahan Linggajaya, Kecamatan Mangkubumi, Kota Tasikmalaya, waktu berjalan pelan bagi Dedi Rustandi (76).

Hari-harinya dihabiskan di ruang tamu sempit yang sekaligus menjadi ruang perawatan bagi sang istri, Rusbandiyah (59), yang sudah enam tahun terakhir hanya bisa terbaring tanpa daya.

Tak ada ranjang medis, tak ada peralatan khusus. Rusbandiyah berbaring di ruang tamu—di sanalah ia makan, beristirahat, dan menjalani perawatan seadanya.

Baca Juga:Rapat Formatur PAN Kota Tasikmalaya Masih Buntu, Tiga Opsi KSB MengapungRuko di Kawalu Jadi Gudang Miras, 6.489 Botol Disita Satpol PP Kota Tasikmalaya Jelang Tahun Baru 

Sakit berkepanjangan yang dideritanya perlahan merenggut kemampuan tubuhnya untuk bergerak, sementara keterbatasan ekonomi membuat keluarga ini hanya bisa bertahan dengan apa yang ada.

Dedi mengingat betul awal mula sakit istrinya.

Sekitar enam tahun lalu, Rusbandiyah mengeluhkan air kencing yang keruh setiap kali buang air kecil.

Keluhan itu tak kunjung membaik, justru diikuti melemahnya kondisi tubuh.

Pada 2019, rasa nyeri hebat di bagian bokong semakin memperparah keadaan hingga Rusbandiyah tak lagi mampu beraktivitas dan harus terbaring total.

Upaya berobat sempat dilakukan.

Rusbandiyah pernah dibawa ke rumah sakit daerah.

Namun, hasilnya tak memberi perubahan berarti.

“Sudah pernah berobat ke rumah sakit, tapi tetap seperti ini,” tutur Dedi lirih saat ditemui Radar, Senin 22 Desember 2025.

Sejak itu, perawatan lebih banyak dilakukan di rumah.

Tak ada pemeriksaan lanjutan, tak ada pendampingan medis rutin, dan tak ada obat khusus yang dikonsumsi.

Keterbatasan biaya membuat keluarga ini tak sanggup melanjutkan pengobatan secara berkelanjutan.

Ironisnya, Dedi pun hidup dengan keterbatasan fisik.

Tangan kirinya tak berfungsi normal.

Namun, setiap hari ia tetap menjalani peran sebagai perawat utama bagi istrinya.

Baca Juga:Hari Ibu Bukan Sekadar Seremoni, Rani Permayani Tekankan Integrasi Gender di Kota TasikmalayaSaat Kursi Kadis di Kota Tasikmalaya Antre pada Satu Nama: Komite Talenta, Komite Segalanya!

Dengan sisa tenaga yang ada, Dedi mengganti pampers, membersihkan tubuh Rusbandiyah, dan memastikan istrinya tetap makan.

Semua dilakukan perlahan, penuh kehati-hatian, dan tanpa keluhan.

Pasangan lansia ini tinggal bersama seorang anak yang kini menjadi satu-satunya tumpuan hidup keluarga.

Dari penghasilan sederhana anaknya, kebutuhan sehari-hari dipenuhi.

Namun, hidup harus dijalani dengan penghematan ketat.

Pampers menjadi kebutuhan paling mendesak—dalam sebulan bisa menghabiskan satu pak.

0 Komentar