Namun ia memilih memaknainya sebagai amanah.
“Beban tentunya ada, tapi saya tidak merasakannya sebagai beban. Saya memaknainya sebagai amanah,” tambahnya.
Ia menjelaskan, amanah tersebut ia pahami sebagai titipan Tuhan yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab.
“Amanah saya melahirkan, kebetulan sekarang menjadi Wali Kota Tasikmalaya. Amanah apapun adalah titipan dari Allah dan harus dilaksanakan sebagai orang beriman,” lanjutnya.
Baca Juga:Hari Ibu Bukan Sekadar Seremoni, Rani Permayani Tekankan Integrasi Gender di Kota TasikmalayaSaat Kursi Kadis di Kota Tasikmalaya Antre pada Satu Nama: Komite Talenta, Komite Segalanya!
Evi juga mengungkap pesan yang rutin ia sampaikan kepada putranya dalam kapasitasnya sebagai kepala daerah.
“Setiap subuh saya selalu berpesan agar menjadi pemimpin yang dicintai masyarakat, diridai Allah, pemimpin yang baik, benar, bijaksana, dan bermanfaat bagi masyarakat,” jelasnya.
Sementara itu, Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan dalam pidatonya di upacara Hari Ibu turut menyampaikan apresiasi kepada sang ibu di hadapan forum resmi pemerintahan.
“Terima kasih ibunda tercinta. Berkat didikan, kasih sayang, dan disiplin yang engkau berikan, hari ini alhamdulillah Viman bisa memimpin Kota Tasikmalaya,” tutur Viman.
Disampaikan dalam forum resmi, ungkapan tersebut tak hanya menjadi pernyataan personal, tetapi juga bagian dari komunikasi politik seorang kepala daerah.
Momentum Hari Ibu pun menjadi ruang di mana pesan keibuan, legitimasi moral, dan kuasa publik bertemu di hadapan warga Kota Tasikmalaya. (ayu sabrina)
