Sebaliknya, mobil listrik milik pribadi yang jarang digunakan untuk perjalanan jauh dan tidak terlalu sering menggunakan fast charging cenderung memiliki baterai lebih awet.
Bahkan, ada kasus mobil listrik yang setelah lima tahun pemakaian masih memiliki SOH baterai 100 persen karena pola penggunaan yang tepat.
4. Jangan Terpaku pada Tahun Produksi
Dalam membeli mobil listrik bekas, tahun produksi bukan faktor utama. Selama kondisi baterai dan sistem kelistrikan masih sehat, mobil listrik dari tahun berapa pun tetap layak dipilih sesuai dengan bujet.
Baca Juga:Rating Drama Korea Moon River Meroket Jelang Episode Terakhir Malam IniRekomendasi Mobil Listrik dengan Jarak Tempuh Lebih dari 500 KM dan Tips Penting Berkendara
Yang terpenting adalah memastikan SOH baterai berada di angka ideal. Mobil dengan usia lebih tua tetapi baterainya masih prima sering kali menjadi pilihan paling rasional dari sisi harga dan manfaat jangka panjang.
5. Realistis dengan Nilai Jual Kembali
Calon pembeli juga perlu bersikap realistis terkait nilai jual kembali. Mobil listrik memang cenderung mengalami depresiasi lebih cepat dibanding mobil bermesin konvensional.
Namun, jika tujuan utama membeli mobil listrik bekas adalah untuk pemakaian jangka panjang, maka fokus utama sebaiknya tetap pada kondisi baterai dan sistem kendaraan, bukan sekadar harga jual kembali.
Mobil listrik bekas sejatinya tetap aman dan layak dibeli, asalkan konsumen memahami apa yang harus diperiksa.
Kunci utamanya ada pada SOH baterai, sistem kelistrikan, dan riwayat penggunaan.
