Ia melaihat risiko penurunan performa mulai Januari kini nyata dimana Allegri dan Rabiot sendiri sudah menyoroti penurunan kualitas pertahanan dibandingkan fase awal musim.
Hal ini menjadi aspek krusial dalam perburuan posisi empat besar Serie A, target minimal Milan musim ini.
Dari luar, jendela transfer Milan tampak seperti kumpulan ide dari berbagai arah tanpa benang merah.
Baca Juga:Ribut dengan Tangan Kanan Antonio Conte, Napoli Kutuk Tindakan Pelatih AC MilanAtalanta Jadi Batu Sandungan Inter Datangkan Marco Palestra, Juventus Incar Lorenzo Lucca
Sebagian besar rekrutan berada di kisaran €20 juta (sekitar Rp340 miliar), harga yang lazim untuk pemain level menengah yang potensial, tetapi bukan sosok pembeda.
Di saat yang sama, manajemen terlihat enggan menginvestasikan dana besar untuk pemain berstatus “juara” yang benar-benar bisa mengangkat level tim.
Dalam konteks ini, transfer seperti Jashari dan Christopher Nkunku dianggap janggal. Keduanya ditebus dengan biaya tinggi, meski bukan kebutuhan prioritas.
Padahal, ruang gerak Milan di bursa transfer disebut terbatas akibat absennya pemasukan Liga Champions.
Ketidaksinkronan juga terlihat dari perbedaan pandangan antara Allegri dan manajemen jelang bursa Januari.
Tanpa dana besar, penambahan pemain di lini tengah dianggap cukup, sementara opsi bek berpengalaman seperti Thiago Silva—yang berstatus bebas transfer dengan kontrak enam bulan—masih diperdebatkan.
Di sisi lain, Milan justru menyiapkan dana sekitar €10 juta (sekitar Rp170 miliar) untuk talenta muda seperti Juan David Arizala dari Kolombia dan striker kelahiran 2007 milik Partizan Belgrade, Andrej Kostic.
Baca Juga:Resmi! AC Milan Kontrak Anak Bungsu Ibrahimovic, Barcelona Amankan Permata La Masia dari Incaran Klub EropaPesan Inter untuk Juventus, AS Roma, dan Napoli: Siapkan Rp682 Miliar jika Inginkan Davide Frattesi
Masalah Milan tak berhenti di bursa transfer. Keputusan menggelar laga melawan Como di Perth, Australia, juga menuai tanda tanya besar.
Perjalanan panjang dan padat agenda komersial dikhawatirkan berdampak pada performa tim di Serie A.
Pernyataan datar dari Rabiot, Mike Maignan, hingga Allegri sendiri mencerminkan kegelisahan internal klub.
AC Milan memang memanfaatkan peluang komersial tersebut, tetapi risikonya nyata: fokus olahraga terancam tergeser oleh kepentingan bisnis.
Kini, semua mata tertuju pada bursa transfer Januari.
Pertanyaannya, apakah jendela tersebut cukup untuk menambal kekurangan mendasar dan menyelamatkan paruh kedua musim Rossoneri, atau justru menjadi bukti lanjutan bahwa Milan masih berjalan tanpa arah yang jelas?
