TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Pagi di Graha Pena Radar Tasikmalaya terasa sedikit berbeda.
Bukan karena headline hari itu, melainkan karena tamu yang datang membawa pesan tentang keterbukaan dan kolaborasi.
Tim Humas DPRD Provinsi Jawa Barat melangkah masuk ke jantung ruang redaksi, tempat berita lahir, diuji, dan diperdebatkan.
Baca Juga:Materi Tuntutan Belum Siap, Sidang Kasus Tambang Galunggung dengan Terdakwa Endang Juta Kembali DitundaDeveloper di Wilayah Jawa Barat Tiba-Tiba Harus Menghentikan Napas!
Kunjungan itu diterima langsung oleh General Manager Radar Tasikmalaya, M Ruslan Hakim, di lantai utama Graha Pena.
Suasana pertemuan berlangsung hangat.Tak kaku. Tak formal berlebihan. Lebih menyerupai dialog antarsesama penjaga kepentingan publik—yang satu di ranah kebijakan, yang lain di ruang informasi.
Bagi Tim Humas DPRD Jawa Barat, kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial. Ini adalah upaya membangun jembatan komunikasi dengan media lokal yang selama ini menjadi rujukan masyarakat Priangan Timur.
Media, dalam konteks ini, tidak hanya diposisikan sebagai penyampai informasi, tetapi juga mitra strategis dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas lembaga legislatif.
“Media lokal memiliki kekuatan besar dalam membentuk pemahaman publik. Apa yang ditulis di sini, dibaca langsung oleh masyarakat yang terdampak kebijakan,” ujar Fahmi, perwakilan Tim Humas DPRD Jabar dalam perbincangan santai namun substansial.
Sementara itu, GM Radar Tasikmalaya Hakim menyambut kunjungan tersebut dengan pandangan yang lugas.
Menurutnya, relasi media dan lembaga publik harus dibangun di atas kejujuran informasi dan saling menghormati peran. Media tidak sekadar corong, dan lembaga publik tidak antikritik.
Baca Juga:Update Kasus Endang Juta, Jaksa Bacakan Tuntutan di Pengadilan Negeri Bandung Besok!Tasikmalaya Sudah Dipanggil Jawara, Tinggal Membuktikan Digitalnya Sampai ke Desa atau Berhenti di Panggung!
“Radar Tasikmalaya sejak awal berdiri berkomitmen menjaga independensi. Tapi independen bukan berarti berjarak. Justru komunikasi yang terbuka akan membuat informasi lebih utuh dan berimbang,” ujarnya.
Diskusi kemudian mengalir ke berbagai isu: peran humas legislatif di era digital, tantangan disinformasi, hingga bagaimana kerja-kerja DPRD bisa disampaikan dengan bahasa yang lebih dekat dengan masyarakat.
Di sela-sela dialog, Tim Humas DPRD Jabar juga diajak melihat langsung aktivitas redaksi—dari meja reporter, ruang editor, hingga dapur produksi berita.
Kunjungan itu ditutup dengan sesi foto bersama. Sederhana, namun sarat makna. Sebuah penanda bahwa di tengah derasnya arus informasi, silaturahmi dan komunikasi tetap menjadi fondasi utama.
