Ironisnya, Nkunku kini bukan lagi misteri dalam arti positif. Ia justru mulai menjadi sebuah kepastian dalam makna negatif.
Sebuah kenyataan yang sulit diterima oleh tifosi Milan, terlebih mengingat harga mahal yang dibayarkan klub.
Rekrutmen berbasis data dan algoritma yang digembar-gemborkan manajemen kembali dipertanyakan efektivitasnya.
Baca Juga:Calabria Ungkap Momen Perpisahan Menyakitkannya dengan AC Milan: Bersikap Baik Jadi Bumerang Bagi SayaClaudio Lotito Bantah Lazio di Ambang Kebangkrutan: “Kami Punya Aset Rp5,16 Triliun”
Di sisi lain, Allegri masih memiliki pembelaan. Skuad Milan saat ini memang tidak seimbang.
Penilaian terhadap sang pelatih masih relatif positif. Allegri bekerja dengan komposisi pemain yang timpang: ada talenta muda seperti Athekame, Odogu, Estupiñán, hingga De Winter, tetapi tanpa fondasi yang benar-benar solid.
Setiap pertandingan Milan selalu berjalan tegang. Setiap laga seolah berteriak bahwa tim ini membutuhkan bursa transfer besar pada Januari.
Situasi yang menunjukkan Allegri pantas mendapatkan dukungan nyata, bukan sekadar wacana.
Milan jelas membutuhkan bek berkualitas tinggi dan seorang striker baru. Karena tanpa Leao dan Pulisic di lini depan, Rossoneri kerap terlihat kehilangan arah—dan Nkunku, sejauh ini, belum mampu mengisi kekosongan tersebut.
Bagi Milan, kisah €40 juta Nkunku kini menjadi simbol terbaru kegagalan pendekatan algoritma: data boleh bicara, tetapi lapangan tetap menjadi hakim tertinggi.
