Christopher Nkunku: Pemain Rp680 Miliar yang Jadi Bukti Terbaru Kegagalan Data Algoritma AC Milan

Christopher Nkunku
Christopher Nkunku Foto: Tangkapan layar Instagram@acmilan
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Laga di menit-menit akhir laga melawan Sassuolo kembali memperlihatkan wajah AC Milan yang rapuh.

Alih-alih menutup pertandingan dengan kontrol dan ketenangan, Rossoneri justru tampil pasrah dan lebih banyak mendapat tekanan.

Bermain tanpa Christian Pulisic dan Rafael Leao, terlihat kekosongan yang semakin sulit disangkal—baik secara taktik maupun kualitas individu.

Baca Juga:Calabria Ungkap Momen Perpisahan Menyakitkannya dengan AC Milan: Bersikap Baik Jadi Bumerang Bagi SayaClaudio Lotito Bantah Lazio di Ambang Kebangkrutan: “Kami Punya Aset Rp5,16 Triliun”

AC Milan musim ini benar-benar menjadi sebuah paradoks. Mereka tampak solid dan kompetitif saat menghadapi tim-tim besar, tetapi justru kerap tersandung melawan lawan yang secara kualitas berada di bawah.

Statistiknya mencolok: Milan kebobolan dua gol masing-masing saat menghadapi Cremonese, Parma, Pisa, Torino, dan Sassuolo.

Sebaliknya, mereka hanya kebobolan satu gol secara total ketika berhadapan dengan Bologna, Napoli, Roma, Juventus, Inter, dan Lazio.

Angka-angka ini menimbulkan pertanyaan serius. Apakah Massimiliano Allegri gagal mempersiapkan tim secara mental untuk laga-laga “mudah”? Atau pesan motivasi sang pelatih tidak sampai ke para pemain?

Yang jelas, Milan terlihat sering kehilangan intensitas, fokus, dan keberanian ketika justru diunggulkan.

Situasi itu kembali terlihat saat melawan Sassuolo. Setelah Milan sempat mencetak gol ketiga yang kemudian dianulir, momentum tim langsung menguap.

Keputusan Allegri mengganti Ricci dengan Pulisic memperburuk keadaan. Pergantian tersebut mengirimkan sinyal yang keliru: Milan seolah diminta berhenti bermain dan memilih bertahan.

Baca Juga:Fabrizio Romano: Denzel Dumfries Rela Ganti Agen demi Bisa Tinggalkan Inter MilanAS Roma Tumbangkan Como di Olimpico, Gasperini: Kami Baik-baik Saja Tanpa Dybala

Strategi semacam ini mungkin pernah berhasil, tetapi belakangan justru sering berujung petaka.

Di sinilah nama Christopher Nkunku kembali menjadi sorotan. Didatangkan dengan nilai transfer €40 juta—sekitar Rp680 miliar dengan asumsi kurs €1 setara Rp17.000—pemain asal Prancis itu sejatinya diharapkan menjadi solusi kreatif sekaligus mesin gol tambahan.

Namun hingga pertengahan Desember, kontribusinya nyaris tak terasa.

Nkunku belum mencetak gol, jarang benar-benar menonjol, dan terlalu sering “menghilang” di lapangan.

Jika dibandingkan dengan Pulisic—meski sedang tidak berada dalam performa terbaik—kehadiran pemain Amerika itu masih terasa lebih konkret.

Pertanyaannya sederhana namun menyakitkan: lebih baik mempertahankan siapa di lapangan, Pulisic atau Nkunku? Jawabannya kini semakin jelas, dan sayangnya tidak menguntungkan bagi sang pemain Prancis.

0 Komentar