Karena itu, BPBD terus mendorong pelatihan dan sosialisasi pengelolaan sampah kepada masyarakat agar tidak membuang sampah ke sungai.
“Kebanyakan kalau dilihat banjir itu karena memang sampah luar biasa. Sudah mah misalnya pemeliharaan kurang, ditambah lagi sampah, ya banjir lah,” bebernya.
Ia menambahkan, minimnya pepohonan juga berpotensi memicu longsor karena ikatan tanah menjadi lemah.
Baca Juga:UIN SGD Bandung Perkasa di Regional Nasional, Bantai Atma Jaya 5–2 dan Sempurna di Grup B!SMPN 2 Kota Tasikmalaya: Dari Halaman Sekolah ke Panggung Penghargaan Adiwiyata Mandiri 2025!
Sebaliknya, kawasan yang ditanami pepohonan besar memiliki kerekatan tanah yang lebih kuat sehingga mampu menekan risiko longsor.
Terkait anggaran, Roni menyebutkan setiap tahun BPBD Kabupaten Tasikmalaya menyiapkan anggaran penanganan bencana sekitar Rp600 juta. Anggaran tersebut bersifat biaya penanganan.
“Kalau anggaran itu tidak diserap, cirinya bagus. Sebab, tidak ada bencana,” ujarnya.
Anggaran tersebut digunakan untuk kebutuhan operasional saat terjadi bencana, seperti akomodasi dan pemberangkatan personel ke lokasi terdampak.
Sementara untuk Belanja Tidak Terduga (BTT), kewenangannya berada di pemerintah daerah dan mekanismenya harus melalui verifikasi dalam waktu 1×24 jam.
Tim reaksi cepat akan melakukan kajian awal untuk menentukan apakah suatu kejadian ditetapkan sebagai bencana darurat atau bencana biasa.
“Nanti yang memutuskan berdasarkan tim kajian cepat itu, Bupati yang akan memutuskan. Apakah ini perlu ditangani tanggap darurat atau tidak,” ucap Roni.
Baca Juga:Wali Kota Tasikmalaya Gedor Pintu Kemenkeu: Tasik Harus Dapat Porsi Fiskal Lebih Kuat!Tambang Tutup, Air Pulang ke Warnanya: Galunggung Tasikmalaya Kembali Bernapas!
BTT disimpan di BPKPD dan penggunaannya tidak hanya untuk BPBD, tetapi juga bisa digunakan oleh dinas lain sesuai kebutuhan penanganan, seperti Dinas PU atau Satpol PP.
Sebelumnya, terdapat sekitar 15 titik yang dibiayai melalui BTT dengan anggaran sekitar Rp15 miliar untuk penanganan longsor, abrasi, dan bencana lainnya.
Saat ini, jumlah personel BPBD Kabupaten Tasikmalaya terdiri dari sekitar 30 PNS dan hampir 50 tenaga non-PNS, serta didukung relawan yang tersebar di desa dan kecamatan.
Keberadaan relawan sangat membantu, terutama dalam percepatan informasi dan penanganan bencana di lapangan.
Menjelang Natal dan Tahun Baru, Roni mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan data Kemendagri, sekitar 42 persen penduduk Indonesia diperkirakan akan melakukan pergerakan pada periode tersebut.
“Nah, mungkin kan cuaca masih belum bersahabat. Jadi, kalau menurut kami, harus waspada dan mungkin untuk menjauhi wisata-wisata yang berbau sungai,” katanya.