“Budidaya BSF sangat ideal untuk diintegrasikan dalam sistem pertanian terpadu,” katanya.
Larva yang dihasilkan dari proses penguraian sampah organik dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan lele dan ayam, yang diharapkan kualitas nutrisinya lebih baik. Selanjutnya, hasil budidaya ikan dan ayam ini dapat menjadi sumber ekonomi baru bagi masyarakat, sehingga tercipta siklus pemberdayaan yang saling menguatkan antara pengelolaan sampah, pertanian, dan kesejahteraan sosial.
“Selain menghasilkan larva, proses budidaya BSF juga menghasilkan residu organik berupa kasgot (kascing got). Kasgot ini merupakan kompos berkualitas tinggi yang sangat baik digunakan sebagai pupuk tanaman, baik untuk pertanian maupun pekarangan rumah,” ujarnya.
Baca Juga:Hello Comfort Roadshow Hadir di Summarecon Mall Bandung, Sharp Tampilkan Teknologi dan Nuansa Hiburan Jepang Bersama JNE, Zai Muslim Wear dari Purwakarta Sukses Tembus Pasar Internasional
Dengan demikian, seluruh tahapan kehidupan BS yang mulai dari penguraian sampah, produksi pakan, hingga pemanfaatan hasil residu ini memiliki nilai ekonomis yang kuat. Konsep ini menunjukkan bahwa sistem pengolahan sampah berbasis BSF tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi masyarakat menuju era zero waste.
Selain program sosialisasi ini, Sekolah Farmasi ITB berencana untuk membuat suatu model dalam skala terbatas untuk integrasi pengelolaan sampah organik dengan ayam petelur dan pembesaran lele bersama para kader posyandu.
Diharapkan larva BSF dari pengolahan sampah dapat digunakan sebagai nutrisi tambahan untuk ternak lele yg sudah terlebih dahulu diinisiasi, serta untuk pakan ayam petelur. “Sekolah Farmasi memiliki harapan bahwa pengelolaan sampah organik secara terintegrasi dengan BSF dan petelur dapat menunjang program makanan tambahan posyandu,” katanya.
Program Pengabdian kepada Masyarakat ini selaras dengan beberapa poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama SDG 11 (Sustainable Cities and Communities) yang menekankan pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan, SDG 12 (Responsible Consumption and Production) melalui pemanfaatan kembali sampah organik menjadi produk bernilai, serta SDG 8 (Decent Work and Economic Growth) dengan terciptanya peluang usaha baru dari budidaya BSF dan hasil budidaya ternak.
“Integrasi BSF dalam sistem pengelolaan sampah dan pertanian terpadu ini menjadi solusi nyata yang mendukung lingkungan yang lebih bersih sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” pungkasnya. (Lisna Wati/rls)
