Di Francesco: Camarda Sempat Kehilangan Ingatan Saat Melawan AC Milan

Francesco Camarda
Francesco Camarda Foto: Tangkapan layar Instagram@uslecce
0 Komentar

RADARTASIK.ID – Kekalahan Lecce 0-2 dari AC Milan di Stadio Via del Mare bukan hanya menyisakan kekecewaan, tapi juga kekhawatiran.

Pelatih Eusebio Di Francesco mengonfirmasi bahwa striker mudanya, Francesco Camarda, mengalami benturan di kepala dan terpaksa ditarik keluar di jeda babak pertama.

“Bagaimana kondisi Camarda? Dia mengalami benturan di kepala, dia tidak bisa mengingat beberapa hal, jadi saya memilih untuk menariknya keluar,” ujar Di Francesco kepada DAZN.

Baca Juga:Jadi Gelandang Tertua yang Catat Assist di Serie A, Luka Modric: Saya Senang dengan AtmosfernyaAC Milan Raih Kemenangan Perdana: Camarda Mati Kutu Dijaga Gabbia

“Dia sedang menjalani pemeriksaan, semoga tidak ada masalah serius. Dia tidak mengerti dengan baik situasi di lapangan, jadi pergantian terpaksa dilakukan,” lanjutnya.

“Dia tetap bermain sekuat tenaga, tapi keselamatan pemain jauh lebih penting,” tegasnya.

Kabar cedera Camarda jelas menjadi pukulan bagi Lecce karena striker 16 tahun itu kesulitan menembus pertahanan Milan di babak pertama.

Ia beberapa kali mencoba mencari ruang, namun selalu ditutup rapat oleh Matteo Gabbia yang membuatnya “mati kutu” menghadapi pengawalan bek Rossoneri itu.

Nilai rapor yang diberikan media Italia pun menggambarkan situasi tersebut: Camarda hanya mendapat 5,5, mencerminkan performa yang minim kontribusi.

Ia tidak mampu memberi ancaman berarti sebelum akhirnya digantikan Nikola Stulic di awal babak kedua.

Ironisnya, debutan Lecce itu justru tampil lebih hidup, bahkan sempat menguji Mike Maignan dengan tembakan keras.

Baca Juga:Media Italia: Mantan Kapten AS Roma Ditawarkan ke AC MilanDaftar Lawan AS Roma di Liga Europa: Lawan Tangguh Diperkuat Mantan Striker AC Milan

Padahal penggemar Lecce sudah menaruh ekspektasi besar pada Camarda setelah keputusannya hijrah dari Milan ke Salento pada bursa transfer lalu.

Di Francesco juga menyesali gol Milan yang dicetak oleh Ruben Loftus-Cheek dari situasi bola mati dan gol penutup Christian Pulisic akibat kesalahan dari pemainnya.

“Saya rasa kami kesulitan di awal karena lini tengah kami terlalu mundur hingga ke garis pertahanan. Seiring waktu, kami membaik, bahkan di babak kedua bisa lebih mengendalikan permainan,” paparnya.

“Tapi kenaifan kami berujung pada tendangan bebas yang kemudian menjadi gol. Melawan tim seperti Milan, kesalahan kecil bisa langsung berakibat fatal,” tambahnya.

Di Francesco juga menilai timnya kurang tajam saat memasuki area pertahanan lawan meski memuji pegerakan di lini sayap yang menunjukkan sisi positif di beberapa momen.

0 Komentar