Program tanam sayuran seperti ini dinilai mampu menyentuh hampir seluruh aspek tersebut.
Misalnya, saat anak-anak berbagi tugas dalam kelompok, mereka melatih kerja sama dan komunikasi.
Ketika menghadapi tanaman yang layu atau gagal tumbuh, mereka belajar bernalar kritis dan mencari solusi.
Baca Juga:Dana Melempem, Semangat Membara! 23 Cabor Kota Banjar Nekat Tancap Gas di BK Porprov Jabar 2025Pasar Tradisional Kota Banjar Didorong Go Digital, Tapi Pedagang Masih Galau: Tawar-Menawar atau Teknologi?
Kegiatan Edukatif yang Relevan dengan Tantangan Zaman
Di tengah tantangan era digital yang membuat anak-anak kerap terpapar gadget sejak dini, kegiatan nyata seperti bertanam menjadi oase yang menyegarkan.
Tidak hanya membawa mereka berinteraksi langsung dengan alam, tapi juga memberi ruang refleksi terhadap pentingnya proses dan kesabaran.
Selain itu, pendekatan ini mendukung paradigma baru pendidikan yang menekankan pada kompetensi dan karakter, bukan hanya hafalan.
Dalam konteks ini, sekolah menjadi tempat tumbuh yang utuh, bukan sekadar ruang kelas dengan papan tulis. (Anto Sugiarto)