Deretan Karangan Bunga di Bale Kota Tasikmalaya: Apresiasi atau Ancaman Lingkungan?

karangan bunga menggunakan styrofoam
Deretan karangan bunga ucapan pelantikan Viman-Diky masih terpampang di pintu masuk lobi Bale Kota Tasikmalaya, Kamis 27 Februari 2025. (Ayu Sabrina/Radartasik.id)
0 Komentar

Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah styrofoam tidak benar-benar hilang, melainkan berubah menjadi mikroplastik yang mencemari lingkungan secara luas.

Masih dalam sumber yang sama, limbah styrofoam dari karangan bunga semakin menjadi perhatian karena dampak negatif yang ditimbulkannya terhadap lingkungan.

Styrofoam, yang berbahan expanded polystyrene, mengandung zat berbahaya seperti benzene dan styrene yang dapat mencemari tanah dan air.

Baca Juga:Lupa Alamat Email Google? Begini Cara Memulihkan Alamat Email Google yang Lupa atau Hilang dengan MudahChatGPT Tambah Fitur Tasks dan Operator: Beneran Bisa Jadi Asisten Pribadi?

Radar juga mencatat penelitian yang dilakukan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) di 18 kota utama Indonesia pada tahun 2018 mengungkap bahwa sekitar 270.000 hingga 590.000 ton sampah masuk ke laut Indonesia, dengan sebagian besar di antaranya berasal dari styrofoam. Ini menunjukkan betapa seriusnya permasalahan limbah plastik di Indonesia.

Sementara itu, menurut perwakilan Indonesia Green Movement (IGM), Ine Rahmatunisa, menyebut karangan bunga di Bale Kota Tasikmalaya bisa jadi masalah baru. Di antaranya penambahan produksi sampah plastik.

“Styrofoam itu masuk ke dalam sampah anorganik yang sama-sama sulit untuk diuraikan bahkan hampir tidak terurai. Sampah ini kalau tidak terkelola memiliki dampak juga bagi lingkungan,” ungkapnya.

Ine mengatakan, kebanyakan karangan bunga setelah dipajang biasanya akan ditumpuk dan dibuang. Styrofoam menurutnya mengganggu lingkungan juga berkontribusi pada timbulnya efek gas rumah kaca.

Karena dalam proses pembuatannya itu mengggunakan CFC (klorofluorokarbon) yang terancam pencemaran.

“Nantinya akan terpotong keci-kecil, kemudian terbawa angin. Memungkinkan sampah styrofoam ini akan berceceran di jalan atau di halaman. Bisa jadi masuk ke dalam gorong-gorong kemudian menyumbat. Dia juga akan menjadi mikroplastik. Itu akan mencemari air,” sebutnya.

Ine mencontohkan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi yang mengambil langkah inovatif.

Baca Juga:Nama Sang Istri Makin Menguat Gantikan H Ade Sugianto sebagai Calon Bupati di Pilkada Ulang 2024!Harga Bitcoin Anjlok Hampir 8%! Peluang Beli atau Tanda Waspada?

Alih-alih menerima karangan bunga sebagai tanda apresiasi, ia meminta masyarakat dan instansi untuk memberikan benih padi.

Menurutnya, benih padi memiliki makna yang lebih dalam dan manfaat nyata bagi petani di seluruh Jawa Barat.

“Menurut saya itu lebih bagus dan lebih efektif. Karena bibit tanamnnya bisa ditanam. Jadi bentuk reboisasi. Kenapa pak wali tidak mencoba itu? Udah tahu kita ini darurat sampah ditambah lagi dengan karangan bunga yang sangat banyak. Apalagi Dinas LH Kota Tasikmalaya tidak pernah menghitung sampah berdasarkan jenis akan kesulitan dalam mengevaluasi kebijakan pengelolaan sampah,” kata Ine.

0 Komentar