Deretan Karangan Bunga di Bale Kota Tasikmalaya: Apresiasi atau Ancaman Lingkungan?

karangan bunga menggunakan styrofoam
Deretan karangan bunga ucapan pelantikan Viman-Diky masih terpampang di pintu masuk lobi Bale Kota Tasikmalaya, Kamis 27 Februari 2025. (Ayu Sabrina/Radartasik.id)
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Deretan karangan bunga ucapan selamat kepada Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tasikmalaya Viman Alfarizi Ramadhan dan Rd Diky Candra Negara masih terpampang di sepanjang pintu masuk lobi Bale Kota Tasikmalaya, Kamis 27 Februari 2025 pagi.

Bahkan sampai ke pinggir lapangan upacara. Viman-Diky memang baru saja dilantik pada 20 Februari 2025. Sejak hari itu pula ratusan karangan bunga berdatangan ke Bale Kota Tasikmalaya. Sejak malam dan pagi buta.

Banyaknya karangan bunga itu memunculkan pertanyaan yang mengusik:

Apakah budaya pemberian karangan bunga ini benar-benar cerminan ketulusan hati para pengirimnya?

Baca Juga:Lupa Alamat Email Google? Begini Cara Memulihkan Alamat Email Google yang Lupa atau Hilang dengan MudahChatGPT Tambah Fitur Tasks dan Operator: Beneran Bisa Jadi Asisten Pribadi?

Ataukah sekadar ajang pamer kekayaan serta status sosial yang berujung pada pemborosan?

Atau bahkan berkontribusi pada bertambahnya produksi sampah?.

Selain itu, karangan bunga yang menggunakan bahan styrofoam, juga pada akhirnya akan dibuang setelah euforia selesai.

Namun belum ada yang tahu karangan bunga yang dikirim berbagai tokoh publik itu, akan dikemanakan. Yang pasti akan berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA) sebagai sampah.

Seorang pegawai Bale Kota Tasikmalaya mengatakan, karangan bunga itu ‘menunggu’ dilihat langsung oleh Wali Kota Tasikmalaya, Viman Alfarizi Ramadhan, yang selesai melakukan retret di Magelang pada hari ini, 28 Februari 2025.

Sayangnya, karena terlalu lama menunggu dilihat, beberapa karangan bunga tampak sudah tidak segar.

Kepala Bidang Pengelolaan Sampah pada Dinas LH Kota Tasikmalaya, Feri Arif Maulana, mengatakan pihaknya tidak diminta untuk mengambil limbah tersebut.

“Apa yang bisa diambil? Akan jadi sampah memang pada akhirnya dan tidak bisa diurai. Tapi itu saya belum diberitahu untuk ngambil atau seperti apa. Itu ada di bagian umum. Saya jadi cari apakah ada yang bisa mendaur ulang,” tuturnya.

Baca Juga:Nama Sang Istri Makin Menguat Gantikan H Ade Sugianto sebagai Calon Bupati di Pilkada Ulang 2024!Harga Bitcoin Anjlok Hampir 8%! Peluang Beli atau Tanda Waspada?

Berdasarkan penelusuran Radar, satu karangan bunga dengan desan paling sederhana dan paling murah memiliki harga sekitar Rp 500-ribuan.

Jika desainnya lebih rumit, ukuran lebih besar dan bunga yang digunakan lebih banyak, harga akan lebih mahal dan bisa mencapai jutaan.

Sementara itu, menurut data yang dihimpun Dinas Lingkungan Hidup Jawa Barat dalam laman resminya, styrofoam membutuhkan waktu sekitar 500 hingga 1 juta tahun untuk terurai.

0 Komentar