Situs Gunung Payung Tasikmalaya Punya Nilai Sejarah dan Spiritual, Warga Laksanakan Tradisi Nyapu Kabuyutan

Situs Gunung Payung
Warga Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, menggelar tradisi turun-temurun yang dikenal sebagai Nyapu Kabuyutan di Situs Gunung Payung baru-baru ini. (Istimewa for Radartasik.id) 
0 Komentar

TASIKMALAYA, RADARTASIK.ID – Menjelang bulan suci Ramadan, masyarakat Desa Sirnajaya, Kecamatan Karangjaya, Kabupaten Tasikmalaya, kembali menggelar tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun, yaitu Nyapu Kabuyutan.

Tradisi ini merupakan salah satu wujud pelestarian budaya sekaligus penghormatan kepada leluhur melalui pembersihan situs-situs keramat yang ada di sekitar desa.

Heri Surisman, seorang tokoh masyarakat dari Dusun Awiluar, menjelaskan bahwa tradisi Nyapu Kabuyutan dilakukan di Situs Gunung Payung, sebuah lokasi yang diyakini oleh masyarakat setempat memiliki nilai sejarah dan spiritual yang sangat penting.

Baca Juga:Pemkot Tasikmalaya Dorong Solusi Hulu-Hilir untuk Atasi Geng MotorPolitisi PDI Perjuangan Dorong Pemulihan Kawasan Perdagangan di Kota Tasikmalaya  

Menurut Heri, kegiatan ini bukan hanya sekadar membersihkan situs, tetapi juga sebagai simbol pembersihan diri dalam rangka menyambut bulan suci Ramadan.

Selain itu, kegiatan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap leluhur serta persiapan batin untuk memasuki bulan Ramadan dengan hati yang bersih.

Ritual ini melibatkan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, pemuka agama, hingga generasi muda Desa Sirnajaya.

Mereka bersama-sama membersihkan area situs dari dedaunan, ranting, dan rumput yang tumbuh.

Heri menambahkan bahwa Nyapu Kabuyutan juga dilengkapi dengan doa bersama dan pembacaan sejarah situs yang dipimpin oleh para tetua adat.

”Kegiatan ini bertujuan agar generasi muda tetap mengenal dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak zaman dahulu,” ungkapnya kepada Radartasik.id, Selasa, 25 Februari 2025.

Kepala Desa Sirnajaya, H Asep Supendi, juga mengungkapkan harapannya agar tradisi ini tetap lestari dan dapat menginspirasi generasi mendatang untuk terus menjaga nilai-nilai kearifan lokal.

Baca Juga:BPBD Kota Tasikmalaya Ada untuk Masyarakat, tapi Seperti Tak Dianggap Penting Subhanallah! Jenazah Kiai Pendiri Pesantren di Kabupaten Tasikmalaya Masih Utuh Setelah 13 Tahun Dimakamkan

Ia menekankan bahwa selain sebagai upaya pelestarian budaya, kegiatan ini juga mempererat kebersamaan antarwarga Desa Sirnajaya.

Asep menambahkan bahwa melalui tradisi ini, masyarakat dapat memasuki Ramadan dengan hati yang lebih bersih dan penuh berkah.

Lebih jauh, Asep menegaskan bahwa Nyapu Kabuyutan menjadi bukti bahwa adat dan budaya masih memegang peranan penting dalam kehidupan masyarakat setempat.

”Dengan adanya tradisi ini, masyarakat Desa Sirnajaya terus membuktikan bahwa nilai-nilai budaya dan spiritual dapat tetap hidup berdampingan di tengah perkembangan zaman,” ungkapnya. (Radika Robi Ramdani)

0 Komentar