Tak lama kemudian, Ranieri meminta Saelemaekers untuk memberi tahu Matías Soulé agar berpindah ke sisi kanan dalam formasi 4-4-1-1.
Sepuluh detik dari instruksi sang pelatih, umpan pertama Soulé berujung assist untuk Shomurodov yang membuat skor menjadi 2-0.
Ranieri juga berhasil mengembalikan kepercayaan diri para pemainnya seperti Shomurodov, yang belum mencetak gol di Serie A sejak Agustus, akhirnya kembali mencetak gol.
Baca Juga:Krisis Keuangan, Manchester United PHK 200 Pegawai dan Tutup Kantin di Old TraffordRiccardo Sottil: Saya Masih Menyimpan Kaos Bertanda Tangan Kaká di Rumah
Setelah golnya, Ranieri hanya menatapnya dan menarik napas dalam, seolah berkata: “Sekarang kamu bisa melepaskan beban ini.”
Adegan serupa terjadi pada menit ke-88 ketika Bryan Cristante mencetak gol melalui sundulan. Setelah bola masuk, Ranieri menurunkan tangannya ke samping dan tertawa, menunjukkan kelegaan.
Uasi pertandingan, Cristante mengungkapkan, “Sebelum laga, pelatih bertanya kepadaku: ‘Kapan kamu akan mencetak gol dari bola mati?’”
Ranieri kemudian menambahkan, “Dia sangat kuat dalam duel udara, mustahil baginya untuk tidak mencetak gol dari bola mati.”
Pada akahirnya, di bawah arahan Ranieri, Roma bukan hanya menjadi tim yang lebih baik secara taktik, tetapi juga lebih bersemangat dan percaya diri.
Semua pemain ingin berkontribusi, semua ingin bermain, dan sihir Ranieri terus menyatukan mereka dalam satu visi yang sama: membawa Roma kembali ke puncak.