Dorong Transformasi Pembangunan Industri Berkelanjutan

Kemenperin BERBICARA. Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita berbicara dalam sambutannya secara virtual pada Grand Seminar Indonesia Chemical Engineering Challenge (IChEC) 2021 dengan topik “Rencana Indonesia dalam Mewujudkan Circular Economy”, Sabtu (3/4/2021).

JAKARTA – Kementerian Perindustrian terus mendorong sektor industri manu­faktur melakukan transformasi ke arah pem­bangunan berkelanjutan. Salah satu langkahnya melalui pelaksanaan konsep industri hijau, dengan prinsip meng­gunakan sumber daya yang eifisien, dapat digunakan ulang, ramah lingkungan dan berkelanjutan, serta memanfaatkan sampah sebagai energi alternatif.

“Sejak tahun 2010, Kemenperin telah memberikan penghargaan industri hijau kepada para pelaku industri di tanah air,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam sambutannya secara virtual pada Grand Seminar Indonesia Chemical Engineering Challenge (IChEC) 2021 dengan topik “Rencana Indonesia dalam Mewujudkan Circular Economy”, Sabtu (3/4/2021), dalam siaran pers Kemenperin.

Menperin mengemukakan, berdasarkan data penghargaan industri hijau tahun 2019, capaian program efisiensi energi sektor industri setara Rp 3,5 triliun dan efisiensi air proses sebesar Rp 229 miliar. “Hal ini menunjukkan bahwa penerapan konsep tersebut juga dapat memberikan dampak ekonomi yang positif,” ujarnya.

Menurut Agus, bisnis daur ulang telah lama dikenal di Indonesia. Berbagai macam sektor industri daur ulang seperti plastik, pelumas, kertas, tekstil, dan logam, selama ini telah berkontribusi dalam upaya menciptakan proses circular economy serta turut membantu mengurangi sampah.

“Sebanyak 913 ribu ton sampah plastik diolah setiap tahunnya menjadi berbagai produk bernilai tambah dengan potensi ekonomi mencapai lebih dari Rp 10 triliun per tahun dan potensi ekspor produk turunan daur ulang plastik yang mencapai USD141,9 juta,” tuturnya.

Menperin menyebutkan, populasi industri daur ulang plastik di Indonesia berjumlah sekitar 600 industri besar dan 700 industri kecil dengan nilai investasi mencapai Rp 7,15 triliun dan kemampuan produksi sebesar 2,3 juta ton per tahun.

Sementara itu, pada sektor pengolahan pelumas bekas, saat ini terdapat kapasitas terpasang sebesar 175.000 metrik ton (MT) yang mampu memproses kembali menjadi produk pelumas untuk memenuhi sekitar 15 persen dari kebutuhan pelumas dalam negeri sebesar 1,15 juta MT per tahun.

“Oleh karenanya, Kemenperin terus mendorong implementasi sirkular ekonomi melalui penerapan Pedoman Tata Cara Produksi PET daur ulang untuk kemasan pangan,” ujar Agus.

Selain itu, Kemenperin melakukan inisiatif untuk menerapkan regulasi Tingkat Komponen Daur Ulang pada barang jadi plastik untuk dimanfaatkan dalam pengadaan barang dan jasa oleh pemerintah serta insentif pengurangan PPn bagi industri daur ulang plastik.

“Upaya tersebut diharapkan dapat mendorong terciptanya konsep ekonomi sirkular pada produk plastik serta diharapkan dapat menjadi solusi atas permasalahan sampah yang dihadapi saat ini,” katanya.
Menperin meminta kepada para pelaku industri di tanah air, diharapkan dapat terus berinovasi, cepat beradaptasi, kreatif dan mampu mengelaborasi konsep ekonomi sirkular dan teknologi digital terutama dalam menghadapi era industri 4.0 saat ini.

“Pembangunan industri merupakan salah satu pilar pembangunan per­eko­nomian nasional yang diarahkan deng­an menerapkan prinsip-prinsip yang berkelanjutan serta didasarkan pada aspek pembangunan ekonomi, sosial dan lingkungan hidup,” tuturnya. (snd)

Be the first to comment on "Dorong Transformasi Pembangunan Industri Berkelanjutan"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: