PAN Jangan Hanya Jadi Penonton

H Syarif Hidayat

TASIK- Partai Amanah Nasional (PAN) Kota Tasikmalaya pernah sangat berjaya di tahun 2007, tepatnya ketika dinakhodai H Syarif Hidayat.

Kala itu, PAN sukses mengisi tujuh kursi di legislatif dan mengantar ketuanya menjadi pemenang Pilkada 2007 dengan menumbangkan petahana (alm) H Bubun Bunyamin.

Selepas tonggak kepemimpinan H Syarief Hidayat lengser, PAN seakan kehilangan figur kuat. Hingga akhirnya kursi di DPRD ikut berkurang menjadi lima kursi.

Lalu, bagaimana langkah parpol berlambang matahari putih kembali meraih kejayaannya.?

Deklarator PAN Kota Tasikmalaya Drs H Syarif Hidayat mengharapkan tekad untuk mengulang kejayaan harus direalisasikan. Salah satunya yakni dengan menunjuk pemimpin yang punya kapasitas.

“Bagaimana bisa berhasil kalau keliru dalam menentukan ketua,” ujarnya kepada Radar, Minggu (21/2/2021).

H Syarif menyebutkan beberapa kriteria pemimpin ideal untuk DPD PAN Kota Tasikmalaya. Di antaranya yakni harus diterima oleh semua pihak di internal partai.

“Harus kohesif, membangun kerekatan dengan kader-kader,” kata Wali Kota Tasikmalaya periode 2007-2012 itu.

Selain itu, figur ketua PAN Kota Tasikmalaya harus mampu membawa partai kembali berwibawa. Sehingga punya penilaian positif di masyarakat dan menambah kursi di DPRD. “Wajib mengembalikan muruah seperti dulu, minimal jadi tujuh kursi seperti dulu,” katanya.

Calon ketua PAN, kata H Syarif, harus bisa berpegang pada platform partai dimana nilai agama tetap dikedepankan.

Sehingga figur ketuanya pun harus mampu mencitrakan nilai-nilai religius. “PAN itu berakar pada moral agama,” ujar Ketua PD Muhamadiyyah Kota Tasikmalaya itu.

Meski memegang nilai-nilai agama, bukan berarti membatasi pergaulan dengan agama lain. Justru, sambung H Syarif, ketua PAN harus mampu masuk dan berkomunikasi dengan seluruh golongan tanpa memandang suku, ras dan agama.

“Karena pemimpin baik adalah orang yang cara komunikasinya juga bagus,” katanya.

Soal kemampuan, lanjut H Syarif, tentunya ketua PAN layak mempunyai kemampuan membawa PAN merebut kekuasaan di eksekutif.

Sebab untuk memberikan manfaat kepada masyarakat tidak cukup di kursi legislatif saja. “Jangan hanya menjadi penjaga malam saja, tapi harus jadi eksekutor,” tegasnya.

Ketika hal itu tercapai, kata H Syarif, jangan sampai kontradiksi dengan nilai-nilai yang melekat pada PAN.

Harus anti authoritarianisme, diktatorial dan KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme). “Kader PAN itu harus amanah, jangan malah culas,” ujarnya.

Hal itu, dia ungkapkan karena kekuasaan itu cenderung korupsi, seperti dikutip di buku Lord Acton 1883-1902.

Karena ketika menduduki Z1 atau Z2, dia memiliki banyak hak istimewa dari mulai gaji, tunjangan, fasilitas dan kewenangan. “Jangan tergiur oleh power abuse atau tindakan melawan hukum,” tandasnya.

Sebelumnya, setelah tertunda beberapa pekan, DPD PAN Kota Tasikmalaya akhirnya melaksanakan Musyawarah Daerah (Musda), Kamis (18/2/2021).

Sembilan kader ditunjuk sebagai formatur sekaligus calon ketua DPD di periode 2021/2026.

Pelaksanaan musda dilaksanakan secara virtual oleh panitia di RS Bersalin Ummi yang berlokasi di Jalan Paseh Kecamatan Cihideung.

Sementara sebagian kader menyaksikan Musda virtual di Sekretariat DPD di Jalan Sewaka Kecamatan Mangkubumi.

Pada kesempatan tersebut, Ketua Umum DPP PAN Zulkifli Hasan menyebutkan sembilan kader yang ditunjuk sebagai formatur.

Kader-kader tersebut merupakan calon ketua dan pengurus DPD PAN Kota Tasikmalaya selanjutnya.

Mereka adalah lima anggota Fraksi PAN DPRD Kota Tasikmalaya seperti H Mamat Rahmat, Ade Lukman, Bagas Suryono, Enan Suherlan dan Aceng MZ.

Ditambah empat kader di luar parlemen yaitu Hendro Nugraha, dr Empud Mahpudin, H Evi Hilman dan Hj Euis Sri Junita.

Dalam kesempatan itu, Zulkifli Hasan berpesan formatur yang tentunya akan menjadi calon pengurus harus mampu membawa PAN ke arah yang lebih baik. Khususnya, bisa banyak memberikan manfaat untuk masyarakat di daerah.

Ketua Steering Commite (SC) Musda DPD PAN Kota Tasikmalaya, Ijang Furqon mengaku bersyukur musda berjalan dengan lancar.

Dia yang juga sebagai peserta mengaku legawa meski tidak ditunjuk sebagai formatur. “Yang jelas tanggung jawab saya sebagai SC sudah selesai,” katanya.

Menurut dia, sembilan kader yang ditunjuk oleh ketua umum DPP PAN tentunya bukan tanpa alasan yang kuat. Karena DPP sudah mengkaji gagasan para kader dalam berkas pendaftaran yang dikirimkan.

“Kan sebelumnya semua peserta mencantumkan makalah yang memuat visi misi dan gagasan ke depan,” katanya.

Pasca penunjukkan, sembilan formatur yang dipilih harus melaksanakan rapat untuk menentukan siapa yang akan menjadi Ketua DPD periode selanjutnya.

Sekaligus membentuk kepengurusan DPD PAN Kota Tasikmalaya yang baru. “Untuk waktunya terserah formatur, tapi DPP memberikan waktu 1 bulan,” kata dia.

Berdasarkan arahan dari ketua umum DPP PAN, lanjut Ijang, kepengurusan baru juga harus melakukan pengkaderan secara maksimal.

Terlebih untuk para pengurus yang harus memiliki kredibilitas tinggi. “Pengurus harus siap-siap nyaleg,” ujar dia mengakhiri wawancara.(rga)

Be the first to comment on "PAN Jangan Hanya Jadi Penonton"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: