Di Masa Pandemi, Kasus TB Tinggi

dr Uus Supangat Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya

TASIK – Kasus penyakit Tuberkulosis (TB) di Kota Tasikmalaya saat masa pandemi cukup tinggi. Selama 2021, sudah lebih dari 600 kasus masyarakat Kota Tasikmalaya terjangkit TB.

“Data yang kami terima penderita TB itu cukup tinggi. Ada sekitar 600 kasus tahun ini. Itu sudah mendapatkan penanganan,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya, dr Uu Supangat, Selasa (16/2/2021).

Saat ini, kata Uus, yang paling penting perlu diketahui yaitu tentang kasus Multi Drug Resistant Tuberculosis (MDR-TB).

”Terakhir yang kami terima sa­ngat tinggi. Data terakhir itu kurang lebih ada 80 kasus MBR-TB ini,” ujar dia.

Kasus TB, baik MBR-TB maupun tidak MBR-TB, bahkan kasus TB extreme drug resistance (XDR) sudah ada di Kota Tasikmalaya, sehingga saat ini Pemerintah Kota Tasikmalaya terus berupaya mengikatkan kembali agar kasus TB ini menurun.

”Kami melalui program yang saat ini terus dilaksanakan sebagai upaya di tengah pandemi karena memiliki potensi wabah lainnya, termasuk TB, HIV dan DBD yang harus diwaspadai,” kata dia menjelaskan.

Menurut dia, kasus meninggal karena TB kemungkinan sangat kecil, kecuali MBR-TB yang memiliki risiko meninggal 40 persen.

”Itu harus diwaspadai, makanya sebagai upaya kita melakukan pelatihan kader, mulai dari penjaringan, diagnosa, termasuk pemantauan minum obat di masyarakat,” ujarnya.

Uus menjelaskan, untuk tahapan pengobatan penderita TB, ada pemantauan dari kader. Selanjutnya melakukan pengetesan terhadap orang-orang terdekatnya.

”Selanjutnya ada pemeriksaan dahak kepada para pasien untuk memastikan terdapat tidaknya virus TB.

Mesin PCR itu tidak hanya berlaku untuk pengecekan virus Covid-19, tetapi bisa digunakan untuk tes virus TB,” kata Uus menjelaskan.

“Mesin itu ada dua, yakni di Rumah Sakit Umum Daerah dr Soekardjo dan Puskemas Purbaratu, itu akan digunakan diganosa cepat untuk TB ini,” kata dia, menjelaskan.

Menurut Uus, untuk pengobatan TB memerlukan kesabaran yakni peng­obat­an­nya 6 bulan sampai 1 tahun.

”Ini yang harus diwaspadai jangan sampai ada putus obat, karena TB ini kalau putus obat harus dimulai dari awal,” kata dia.

Uus menjelaskan, kalau putus obat berulang kali akan masuk pada fase MBR-TB. “Kalau MBR-TB ini tidak disiplin, masuk kepada fase XDR-TB.

Fase-fase itu yang menjadikan tingkat kematian sangat tinggi pada penderita TB,” kata dia menjabarkan. (ujg)

Be the first to comment on "Di Masa Pandemi, Kasus TB Tinggi"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: