TPID Kaji Harga Jual Suplier dan Pedagang

Kota Tasik Andalkan Kedelai Impor

Firgiawan / Radar Tasikmalaya SIDAK. TPID sidak ke sejumlah distributor kacang kedelai, salah satunya di Kompleks Pasar Cikurubuk Senin (11/1).

INDIHIANG – Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menyisir se­jumlah distributor kedelai, memastikan ke­tersediaan dan harga sesuai de­ngan tarif pasaran. Ter­dapat dua distri­butor besar yak­ni di wilayah Indi­hiang dan Pa­sar Cikurubuk yang menjadi sa­sar­an inspeksi dadakan.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM, Perindag, Kota Tasikmalaya H M Firmansyah menjelaskan berdasarkan hasil inspeksinya di lapangan, kondisi stok kedelai yang ada mencapai 60 sampai 80 ton, untuk disalurkan ke pemasok dan perajin tahu dan tempe. Harga kedelai saat ini, kata dia Rp 9.000 per kilogram. Padahal bila mengacu kepada peraturan Kementerian perdagangan secara global hanya Rp6.800 per kilogram.

“Setelah kami klarifikasi kenaikkan harga itu karena harga beli dari suplier pusat di jual dengan harga Rp 8.700 per kilogram,” tuturnya disela sidak di Pasar Cikurubuk, Senin (11/1).

Pihaknya akan menganalisa faktor penyebab kenaikan harga suplier pusat, karena tidak sesuai dengan harga yang ditetapkan oleh kementerian. Kenaikan tersebut, perlu dicek lebih lanjut sejauhmana selisih harga terhadap pengecer atau perajin. “Apakah lebih tinggi dari harga dasar keputusan pemerintah pusat, atau memang mengikuti harga suplier ini,” kata dia.

“Bisa terjadi juga harga impor ke suplier dinaikkan, itupun bisa terjadi karena adanya pembatasan kuota tadi,” sambung Firmansyah.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Tasikmalaya, H Tedi Setiadi menuturkan kebutuhan kedelai setiap satu bulan mencapai 520 ton. Menurutnya, dari kondisi stok kedelai yang ada di Kota Tasikmalayaterbilang mencukupi.

“Untuk pembuatan tahu dan tempe ini Kota Tasikmalaya masih mengandalkan kedelai impor dari Amerika, dengan alasan kualitas tempenya lebih bagus,” ujarnya.

Dia mengatakan perajin kurang begitu melirik kedelai lokal, karena dari sisi kualitas lebih baik kedelai impor. “Makanya kebutuhan kedelai impor ini sangat tinggi untuk dijadikan olahan tempe dan tahu,” kata Tedi.

Sementara itu, Pemilik toko distributor kacang kedelai di Pasar Cikurubuk, Ardi Cahyadi mengakui kenaikkan harga kedelai merupakan faktor internasional. Selama ini, kata dia, harga kacang kedelai tersebut sudah mengalami kenaikkan. “Harga beli dari sana di kisaran Rp 8.700 dan 8.600 untuk saat ini yang di ambil langsung dari Jakarta,” tuturnya.

Pihaknya menjual di kisaran Rp 8.900 sampai Rp 9.000 per kilogramnya. Ia menjual tidak lebih tinggi, tetapi menyesuaikan harga suplier. Dampak dari kenaikan harga komoditi dunia ini sangat dirasakan olehnya dan juga para pengarajin tempe dan tahu.

“Harga naik penjualan menurun, penjualan juga menurun hingga 30 persen dampak dari kenaikan harga ini,” keluhnya. (igi)

Be the first to comment on "Kota Tasik Andalkan Kedelai Impor"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: