Tulus Mengabdi untuk Pendidikan

foto-foto: istimewa BAHAGIA. H Dudung Abdussalam MAg bersama istri dan anaknya.

Sepanjang hidup, H Dudung Abdussalam MAg (71) ingin berguna untuk sesama. Dia tulus berkontribusi untuk dunia pendidikan, karena ingin mencerdaskan dan membangun karakter setiap manusia.

Pria kelahiran Tasikmalaya ini, mulai berkecimpung langsung di dunia pendidikan saat kuliah di UIN Sunan Ampel Surabaya Jawa Timur tahun 1970-an. Saat itu dia yang mengambil Jurusan Pendidikan Agama Islam mulai mengajar mengaji untuk anak-anak sekitar kontrakannya.

”Sisa-sisa waktu saat kuliah pada malamnya saya rutin mengajar ngaji anak-anak di sekitar kontrakan,” kata H Dudung kepada Radar di Pondok Pesantren Zaenussalam Yayasan Jidris Assalam Tasikmalaya, Jumat (8/1/2021).

Dengan kepedulian ini, meyakinkannya senantiasa mengasah ilmu, menjaga kemurnian akhlaknya dan meningkatkan nilai keteladanan dalam dirinya.
“Tugas pendidik itu sangat penting. Karena itu sebisa mungkin saya bisa menjadi figur yang terus diteladani anak,” ujarnya sambil bergurau.

Setelah lulus kuliah tahun 1978, KH Dudung pun mulai melakukan pengembaraan mencari rezeki. Akhirnya berjodoh dengan Hj N. Nasiroh yang kala itu masih kuliah di IAIN Sunan Gunung Jati Bandung.

“Sambil menunggu istri menyelesaikan kuliah, karena ada yang mengetahui saya sarjana pendidikan agama Islam dapat tawaran untuk mengajar di Yayasan Lembaga Pendidikan Islam daerah Nagreg Bandung,” katanya menjelaskan.

Karena H Dudung mempunyai prinsip pengabdian untuk kepentingan pendidikan, jadi ketika ada yang membutuhkan dengan sekiranya mampu ia siap menjalankan siapa pun yang menyuruhnya.

“Sekalipun tidak mendapatkan bayar besar. Tapi yang penting bisa nikmat untuk mentransfer ilmu yang bermanfaat,” ujarnya yang murah senyum itu.

H Dudung pun terkenal sosok pendidik yang pengayom, sehingga mendapat kesempatan baik, karena saat mengikuti testing dosen lewat koordinator perguruan tinggi swasta bisa lolos.

“Bersyukur dengan menikmati proses pengabdian menjadi pengajar bisa menjadi PNS tahun 1981. Dengan berkesempatan mengajar di STIE Inaba Bandung,” katanya menjelaskan.
H Dudung pun ingin terus menjadi pengajar yang ideal dengan mampu memberikan pendidikan kognitif, afektif, dan psikomotorik untuk mahasiswa.

“Saya berusaha untuk mampu menciptakan suasana kelas lebih hidup, lebih aktif, dan menyenangkan,” ujarnya.

Karena pengabdian pendidikan H Dudung ternyata lebih dibutuhkan di Tasikmalaya, ia pun 1994 memutuskan untuk pulang ke Tasikmalaya.

“Sejak 1994 sampai sekarang saya pernah mengajarnya di STIA YPPT Priatim Tasikmalaya, IAIC Tasikmalaya, Unper Tasikmalaya, STIKes BTH Tasikmalaya, dan STAI Tasikmalaya,” kata alumnus UII Yogyakarta itu.

Kemudian, karena H Dudung ingin terus berjuang dan mengembangkan di dunia pendidikan, ia membentuk Yayasan Jidris Assalam Tasikmalaya pada 1994.

“Karena sudah dari mulai merintis Pondok Pesantren, Madrasah, Majelis Taklim, dan MI. Saya terus mengembangkannya dari MTs hingga MA,” ujarnya menjelaskan.
“Itu juga membantu menyukseskan program pemerintah yaitu wajib belajar 12 tahun dan belajar sepanjang hayat di pondok pesantren,” ujarnya.

Dengan komitmen dan usaha yang besar untuk meningkatkan pendidikan formal atau informal, H Dudung mempercayai pendidikan adalah yang paling utama.

“Bersyukur keluarga saya bisa menjadi mengutamakan pendidikan, sehingga tiga anak dan kita (H Dudung dan istri, Red) mayoritas menjadi lulusan sarjana dan lulusan pascasarjana,” ujarnya bangga. (riz)

Be the first to comment on "Tulus Mengabdi untuk Pendidikan"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: