Total Dapat Bantuan Mencapai Rp 7 Jutaan

Si Layung: Hatur Nuhun

TASIK – Empati dan kepedulian terus berdatangan terhadap seorang nenek malam yang belakangan mencuri perhatian masyarakat. Salah satunya dari developer perumahan Tasikmalaya, H Budi Mahmud Saputra SE.

Ia tergerak untuk turun langsung mencurahkan kepeduliannya terhadap si nenek yang kedapatan tengah memberikan jasa kerok terhadap salah seorang penarik becak, Jumat malam (8/1) sekitar pukul 20.00.
Budi merasa miris seusia nenek itu masih harus berada diluar rumah untuk sekadar mencari makan. Padahal kondisi cuaca sedang hujan, diselimuti udara dingin di sekitaran eks ruko tersebut.

Si nenek bercerita, ia mendapatkan banyak kepedulian dari beragam pihak. Terkumpul sekitar Rp 7 juta dari pemberian orang-orang belakangan ini. “Hatur nuhun, alhamdulillah akan saya kumpulkan untuk keperluan,” tuturnya kepada Radar, kemarin.

Ia bersyukur ada media informasi yang memuatnya dan berdampak terhadap banyaknya bantuan bagi dirinya. Sebab, selama ini sehari-hari ia berpenghasilan tidak tetap dan kadang tidak dapat sepeser pun.
“Alhamdulillah banyak yang datang. Tadi malam juga ada relawan (Kang Yanto Oce, Red), kemarin sore ada dinas, ada juga dari orang yang sudah sukses katanya di luar Tasik,” cerita si Nenek.

Ia mengaku sudah ditawari pemerintah supaya tinggal sementara waktu di rumah singah. Namun, ia tak mau karena tidak ada teman dan lebih memilih tinggal di emperan toko. “Lagian saya juga suka pulang, ada keluarga,” kata si neneknya warga sekitar menyebutnya Si Layung.

Dia menceritakan punya banyak anak dan cucu. Tapi, enggan tinggal bersama mereka dan lebih nyaman seperti itu. “Dulu punya warung di sini, ya di sini saja. Cari makan,” kata nenek berusia kisaran 70 tahun itu.

Sementara itu, tokoh masyarakat Tasikmalaya H Budi Mahmud Saputra SE mengapresiasi adanya informasi temuan nenek yang nyambi menjadi PSK tersebut. Ia mengaku prihatin adanya fenomena tersebut dan harus menjadi tanggungjawab sosial bagi warga Tasikmalaya. “Saya tak melihat nenek ini dari kebiasaanya, namun ini merupakan tanggungjawab bersama khususnya pemerintah,” kata dia.

Budi mengapresiasi Radar yang sudah berani menginformasikan kaitan fenomena tersebut. Hal itu menjadi tolak ukur keberadaan kondisi masyarakat saat ini.

“Mana ada yang akan peduli dan berikan empati kalau tidak diberitakan. Saya harap mulai saat ini Pemkot inventarisasi orang yang hidup di jalan, jangan kalah dengan mahasiswa yang belum punya penghasilan tetap, tapi peduli akan warga dan daerahnya,” tegas Budi.

Jangankan di kondisi biasa, kata Budi, di kondisi pandemi Covid-19 ini semua harus melek akan kondisi semacam ini. Ia mengapresiasi juga kalangan mahasiswa (Hima Persis) yang peduli akan kondisi sekitar, di tengah kondisi krisis berbagai bidang. Ia mendukung fenomena-fenomena semacam ini harus diekspos seluas mungkin.

Supaya semua daerah bisa mendeteksi program bantuan pemerintah yang tidak sampai menyentuh warga seperti Si Layung.

“Ini merupakan study kasus, dengan temuan ini wajar Kota Tasikmalaya menjadi kota termiskin di Jawa Barat. Mungkin wajar secara statistik termiskin lewat fakta temuan mahasiswa ini,” kata dia yang juga Ketua Pemuda Panca Marga (PPM) Tasikmalaya.

Budi menganalisa fenomena semacam ini jangan dianggap aib. Sebab, hal ini bukan kelemahan di suatu daerah tapi di wilayah mana pun tidak menutup kemungkinan terjadi. Diharapkan warga yang sudah mampu melek dengan kondisi seperti ini, bukan dianggap membuka aib tetapi koreksi bagi bersama akan hadirnya warga yang perlu perhatian ditengah kondisi pandemi yang serba sulit.

“Sebagai koreksi pemerintahan setempat supaya bantuan ke depan lebih tepat dan terarah. Saya pun berterimakasih adanya informasi ini sehingga tergerak karena iba untuk membantu. Semoga pemerintah ada solusi ampuh persoalan semacam ini,” lanjut pria yang hobi pingpong tersebut.

Terpisah, Sekretaris Dinas Sosial Kota Tasikmalaya, Hendra Budiman mengaku pihaknya langsung menerjunkan pekerja sosial untuk mendalami dan mengajak ke rumah singgah. Sebab, nenek berinisial TS ini sudah nyaman hidup di jalan. “Kita ingin tempatkan di tempat layak. Kami mohon keluarga bisa mendorong agar tidak hidup di jalan,” harapnya.

Hendra belum bisa memastikan bahwa si nenek itu merupakan PSK. Hanya dari indikasi, mulai cara berpakaian, riasan wajah, serta aktivitas si nenek yang kerap lalu-lalang di tengah malam mengindikasi kuat ada jasa lain yang ditawarkan. “Memang masih kami dalami, tapi yang menjadi catatan kami bukan kaitan pekerjaannya tapi bagaimana ia tidak hidup di jalanan dan mendapat tempat perlindungan yang lebih baik,” katanya.

Namun, dari informasi beberapa warga sekitar pihaknya mendapat kepastian bahwa si nenek sering melayani pria hidung belang. “Makanya si nenek itu tenar dijuluk Si Layung. Kemudian menurut pengakuan warga yang sering aktivitas di sini, ia perempuan malam sejak 2008,” ucapnya. (igi)

Be the first to comment on "Si Layung: Hatur Nuhun"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: