Pemkot Identifikasi Dampak Kenaikan Kedelai

MEMBUAT TEMPE. Para pengrajin tempe di Kelurahan Panglayungan Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya saat membuat tempe Senin (4/1/2020). Pemkot dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Tasikmalaya akan turun ke lapangan untuk memantau stok kedelai.

TASIK – Pemerintah Kota Tasikmalaya saat ini masih melakukan langkah identifikasi mengenai dampak kenaikan harga kedelai di Kota Tasikmalaya. Bahkan saat ini Pemkot akan melakukan koordinasi dengan tim Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID).

”Termasuk kita akan melakukan pemantauan ke lapangan,” kata Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan UMKM Kota Tasikmalaya H Firmansyah kepada Radar, Selasa (5/1).

Konsolidasi tersebut rencananya dilaksanakan hari ini dengan Bagian Ekonomi. Hanya sampai saat ini belum ada keputusan langkah yang akan diambil untuk meringankan para pedagang dan pembuat tahu tempe di Kota Tasikmalaya.

“Mungkin langkah awal yakni memantau harga kedelai di lapangan terlebih dahulu sebelum dilakukan langkah,” kata dia menjelaskan.

Pihaknya juga bersama dengan Tim TPID akan melihat lokasi-lokasi penyimpanan atau gudang kedelai untuk melihat ketersediaan bahan baku tempe dan tahu itu.

“Kita akan memastikan terlebih dahulu distributor kedelai impor di Tasikmalaya ini,” kata dia.
Sampai saat ini, pihaknya belum mengetahui mengenai kebutuhan kedelai di Tasikmalaya karena harus melalui penelitian lapangan mengenai kebutuhan tempe dan tahu.

“Makanya kami akan mencari tahu terlebih dahulu mengenai kebutuhan itu,” kata dia.

Sementara Kepala Bidang Pangan Dinas Pertanian Kota Tasikmalaya Enung Nurteti mengatakan, kebutuhan kedelai Kota Tasikmalaya setiap satu bulannya 520 ton. Sedangkan untuk stok sendiri lebih dari kebutuhan dengan berbagai gudang.

“Sebetulnya untuk stok mencukupi untuk kota Tasikmalaya. Berdasarkan hasil survei lapangan,” kata dia kepada Radar di ruangannya Selasa (5/1).

Selama ini, kata Enung, untuk pemenuhan kebutuhan kedelai di Kota Tasikmalaya merupakan impor dari Amerika. Hanya untuk saat ini Amerika memiliki banyak kebutuhan untuk ekspor ke Cina yang dalam proses pemulihan ekonomi.

“Jadi akan kebutuhan kedelai sangat tinggi, termasuk adanya gagal panen di Amerika karena massa pandemi. Dengan itu impor kedelai dengan jumlah terbatas,” kata dia.

Salah satu upaya saat ini yakni agar kenaikan harga kedelai ini harus mengaktifkan kembali Kopti (Koperasi Tahu Tempe Indonesia) sebagai rumahnya pengrajin tempe dan tahu.
“Jangan sampai ada pengusaha yang memainkan harga seenaknya.

Saat ini harga kedelai itu setiap satu kilogram di jual Rp 8.900,” kata dia menerangkan.

Menurut dia, penggunaan kedelai lokal karena diminta cukup bagus hasilnya bila dijadikan olahan tahu dan tempe. Sedangkan lokal kurang merekah.

“Sehingga dengan kedelai lokal kurang disenangi oleh konsumen dan penjual tahu tempe,” kata dia.

Kedelai lokal bila digunakan untuk bahan baku tempe kurang banyak hasilnya. Begitupun tahu. Biasanya kedelai lokal digunakan untuk campurannya saja.

“Termasuk kedelai lokal sendiri cepat basi bila dibuat tahu dan tempe,” kata dia menerangkan.
Sebelumnya, naiknya harga kedelai berimbas terhadap pengrajin tempe di Kota Tasikmalaya. Mereka mengurangi jumlah produksi.

Pengrajin tempe yang mengurangi produksi pasca harga kedelai naik yaitu Iwan Irawan (57). Dia salah satu perajin tempe di Kelurahan Panglayungan Kecamatan Cipedes Kota Tasikmalaya.

Dia terpaksa mengurangi jumlah produksi dan ukuran tempe untuk menyesuaikan harga.
Iwan membeli kedelai untuk bahan baku tempe Rp 8.900 setiap satu kilogram yang sebelumnya hanya Rp 6.700 satu kilogram.

“Dengan adanya kenaikan secara nasional, Kota Tasikmalaya harga kedelai naik Rp 2.200 satu kilogram. Apalagi informasinya akan naik lagi menjadi Rp 10.000,” kata Iwan kepada Radar saat ditemui di pabrik pembuatan tempe di daerah Kelurahan Panglayungan Senin (4/1/2020).

Untuk menghemat modal, Iwan mengurangi produksi yang biasanya mencapai satu kuintal menjadi 80 kilogram.

“Kami sangat merasa keberatan dengan harga itu, apalagi sejak dari dulu harga kedelai ini tetap stabil,” kata dia.

Di sisi lain, Iwan juga tidak mau menaikkan harga tempe karena konsumen tidak mau harga tempe naik.

“Dengan terpaksa kami mengurangi sedikit ukuran tempe yang biasa kami jual Rp 2.000 dan Rp 1.000 setiap satuannya, agar tetap bisa produksi,” kata dia.

Iwan berharap, pemerintah membantu para pengrajin tempe untuk menurunkan harga kedelai agar pembuatan tempe bisa optimal kembali.

“Karena dengan naiknya harga bahan baku ini tidak ada untung bagi kami. Bahkan saat ini kami juga turun omzetnya sekitar 30 persen dengan adanya kenaikan harga kedelai ini,” kata Iwan.

Namun apapun yang terjadi, dia masih bersyukur karena di saat para pengrajin tempe lainnya sudah tidak berproduksi, dia tetapi masih bertahan meski jumlah produksi dikurangi.
“Alhamdulilah kami masih bertahan. Mudah-mudahan harga bisa stabil kembali,” kata dia berharap.

Pedagang tempe di Pasar Cikurubuk Yati Heriyati (45) mengatakan, meski harga kedelai naik, harga tempe tetap. Dia menjual Rp 2.000, Rp 2.500 dan 3.000. “Bila di naikkan saat ini tidak akan lalu tempenya,” kata dia.

Memang saat ini, kata dia, ukuran tempe agak mengecil dari biasanya.

“Mungkin itu karena menyesuaikan harga pa, mudah-mudahan harga kedelai stabil kembali agar konsumen tidak mengeluh,” harap dia. (ujg)

Be the first to comment on "Pemkot Identifikasi Dampak Kenaikan Kedelai"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: