Wacana Karantina Membuat Pembalap Dilema

Para pembalap top dunia tampaknya harus memilih antara Tour de France dengan Olimpiade Tokyo.

Kedua event ini sama-sama berlangsung pada pertengahan 2021. Jaraknya sangat mepet, kurang dari seminggu.

Masalahnya, muncul wacana karantina 14 hari kepada atlet dunia yang akan berlaga di Jepang.

Tour de France 2021 dijadwalkan berakhir di Paris pada 18 Juli. Sementara balapan road race untuk kategori putra di Olimpiade Tokyo berlangsung 24 Juli.

Sementara road race putri akan digelar 25 Juli, atau 14 hari setelah etape pamungkas Giro Rosa pada 11 Juli.

Dari Jepang, muncul wacana karantina untuk atlet peserta Olimpiade. Durasinya dua pekan.

Jadi, sebelum berlaga di Tokyo, mereka harus diisolasi selama 14 hari. Wacana karantina ini membuat sebagian pembalap terancam tidak bisa berlaga di Tokyo.

Bagi Remco Evenepoel (Deceuninck-QuickStep), Tao Geoghegan Hart (Ineos Grenadiers), dan Vincenzo Nibali (Trek-Segafredo) yang diperkirakan tampil di Giro d’Italia pada bulan Mei, wacana karantina menuju Olimpiade Tokyo ini tidak jadi masalah.

Akan tetapi, untuk Julian Alaphilippe (Deceuninck-QuickStep), Wout van Aert (Jumbo-Visma), Greg van Avermaet (AG2R Citroën Team), Primoz Roglic (Jumbo-Visma), Tadej Pogacar (UAE Team Emirates), dan Marc Hirschi (Team DSM) yang diharapkan tampil di Tour de France, wacana ini adalah bencana.

“Dua minggu lalu kami menerima aturan versi terbaru dari penyelenggara Olimpiade di Tokyo.

Menyatakan bahwa mereka akan tetap menerapkan aturan karantina 14 hari setelah tiba di Jepang,” ungkap Johan Bellemans, kepala dokter dari Komite Olimpiade Belgia kepada Sporza dilansir dari mainsepeda.com.

“Secara logistik, masa karantina ini tidak mudah bagi para atlet dalam hal latihan. Sebab aturan ini akan tumpang tindih dengan event lain. Coba pikirkan Tour de France, Wimbledon, dan NBA.

Jika itu tergantung pada IOC, masa karantina akan jauh lebih pendek. Pihak berwenang Jepanglah yang berpegang pada karantina dua minggu,” imbuhnya.

Union Cycliste Internationale (UCI) memang belum menanggapi perihal wacana ini. Namun, Kepala Belgian Cycling dan presiden Professional Cycling Council Tom Van Damme mengindikasikan bahwa aturan ini bukan sekadar wacana belaka.

“Bagaimanapun, akan sangat bagus bahwa Olimpiade bisa berlangsung. Jika olahraga lain harus mematuhi aturan karantina, bersepeda juga harus melakukannya,” katanya.

Van Avermaet menawarkan dua solusi: pengurangan karantina atau memindahkan tanggal nomor road race ke akhir jadwal Olimpiade.

“Jika pembalap harus memilih antara Tour dan Olimpiade, Anda tidak akan memiliki pembalap terkuat di Tokyo,” ucapnya. (mainsepeda)

Be the first to comment on "Wacana Karantina Membuat Pembalap Dilema"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: