Satu Dekade Kepemimpinan Syekh Muhammad Fathurahman

Syekh Muhammad Fathurahman

Satu dekade sudah Tarekat Idrisiyyah dipimpin Syekh Muhammad Fathuraman. Peralihan kepemimpinan mursyid tarekat yang dipilih langsung secara hirarki dari atas ke bawah dari guru mursyid sebelumnya Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan kepada Syekh Muhammad Fathurahman secara istikhlaf dan isyroqiyyah.

Syekh Muhammad Faturahman MAg lahir di Tasikmalaya 3 Maret tahun 1974. Sejak muda, Muhammad Fathurahman kecil hingga remaja telah aktif mengabdikan dirinya dalam berbagai kegiatan keagamaan, belajar berbagai disiplin keilmuan sekaligus mempraktikkannya sehingga keilmuan-keilmuannya yang dipelajarinya begitu membekas penuh rasa dan hikmah di dalamnya.

Syekh Muhammad Fathurahman mendalami tiga disiplin ilmu pokok dalam Islam yakni Tauhid, Fiqih dan Tasawuf di 10 pesantren.

Syekh Fathurahman juga belajar di 2 perguruan tinggi hingga meraih gelar master dalam bidang agama.

Bahkan masa muda, Syekh Muhammad Fathurahman penuh dengan aktifitas pengabdian kepada gurunya secara totalitas dan 4 tahun sebelum peralihan kemursyidan dari guru sebelumnya, Syekh Akbar Muhammad Daud Dahlan kepadanya, Syekh Fathurahman mendapatkan pendidikan kepemimpinan dengan diamanahi sebagai ketua harian dan ketua Umum Yayasan Idrisiyyah dari tahun 2006 sampai 2010.

Di masa 10 tahun kepemimpinannya, Tarekat Idrisiyyah mengalami perubahan yang sangat besar dari berbagai aspek kehidupan, sosial, ekonomi dan peribadatan, periode ini sebagai bentuk menyambut masa keterbukaan tarekat. “Inilah periode yang disebut menjemput futuh Islam,” kata Syekh Muhammad Fathurahman MAg,

Di awal kepemimpinannya sebagai Mursyid Tarekat Idrisiyyah, tahun 2010, pergerakan dakwahnya dengan meluncurkan program pertama, yaitu Salat Tahajud berjamaah yang beliau jadikan itu sebagai program utama bagi semua murid.

Program tersebut bukan asal program, sebagai pembimbing umat, beliau menilai Tahajud adalah sebuah sumber energi, agar mesin ruhani jamaah menjadi panas secara merata dan siap bergerak dilesatkan menjadi anak panah dakwah.

“Itu terbukti, tiga tahun pertama kepemimpinan Syekh Muhammad Fathurahman adalah periode pengokohan. Ibarat menyingkirkan kerikil di dalam sepatu lari.

Kondisi pengurus dan jamaah terjalin kesolidan, bersih luar dan dalam, lahir dan batin dan mampu berlari dengan cepat,” jelas dia.

Pergerakan atau pembangunan di tahun awal 2010-2013 tahun-tahun Eksistensi Citra Tasawuf dan Tarekat melalui sebuah nama lembaga berlabel yayasan, dulunya Idrisiyyah bernama Yayasan Al-Idrisiyyah.

Pada tahun ke-2 kepemimpinannya, Syekh Muhammad Fathurahman melakukan rebranding istilah yayasan dengan nama Tarekat Idrisiyyah.

Hal itu untuk menunjukkan eksistensi kepada publik akan manhaj tarekat dibalik pergerakan yayasan yang dipimpinnya.

Perubahan nama publik itu menandakan lembaga telah siap membuka diri dan menjawab tantangan persoalan umat dan bangsa dengan kendaraan lembaga Tarekat Idrisiyyah.

dy
Perbaikan citra positif pengamal tarekat dan tasawuf dari pandangan-pandangan negatif sebagian umat menjadi lahan dakwah dan tantangan pekerjaan rumah tarekat Idrisiyyah kala itu.

Segala tudingan-tudingan yang menyudutkan dihadapi dengan tindakan dakwah bijaksana dan dijadikannya sebagai pedoman oleh Syekh Muhammad Fathurahman.

“Kala itu mengatasinya dengan merangkul tanpa memukul, menasihati namun tanpa menggurui, mengusung tapi tidak menyinggung, selalu mengajak bukan mengejek.

Ibarat menuangkan air putih ke dalam gelas berisi air keruh, dituangkannya air bersih sedikit demi sedikit.

Terus menerus dengan perlahan tapi pasti, maka air keruh dalam gelas akan berubah jernih,” ujarnya memaparkan.

Menurutnya, setiap ujian adalah syarat untuk naik kelas. Maka Tarekat Idrisiyyah pun memasuki babak baru. Bila harus meminjam istilah dalam bisnis, Idrisiyyah Go Public.

Penandanya adalah meletakkan batu pertama pembangunan masjid Al Fattah baru di markas Tarekat Idrisiyyah Pondok Pesantren Idrisiyyah Tasikmalaya.

“Rencana pembangunan yang menganggarkan hingga miliaran rupiah itu menyedot perhatian jamaah dan umat. Hingga jiwa-jiwa anshorullah terketuk untuk berjuang mewujudkannya,” kata dia.

Sebagai seorang mursyid, Syekh Muhammd Fathurahman terus membina murid-muridnya secara konsisten dan berjenjang.

Setiap kegiatan ibadah yang dibijakinya untuk murid memiliki sasaran dan tujuan masing-masing.

Mulai dari yang bersifat umum seperti pengajian Arba’in hingga yang bersifat khusus lebih mendalam seperti kajian intensif untuk pengurus dan mahasantri.

Pembaharuan atau diistilahkan tajdid pun banyak dilakukan Syekh Fathurahman dalam menjalankan tata cara ibadah seperti Dzikrul Makhsus di malam Jum’at, Tahajud diberjamaahkan, majelis harian, mingguan, bulanan, bahkan tahunan.

DAKWAH. Pimpinan Tarekat Idrisiyyah Syekh Muhammad Fathurahman saat berdakwah dalam salah satu forum beberapa waktu lalu sebelum pandemi.

“Itu untuk mengalami penyegaran kemasan kegiatan peribadatan sebagai bentuk tajdid seorang murysid kekinian.

Praktik ibadah seperti adab berdzikir, adab salat, adab berpakaian ketika beribadah dan lainnya dilakukan penyesuaian ketika slogan ‘go public’ digenderangkan.

Sebab dalam berdakwah bagi Syekh Muhammad Fathurahman sikap toleransi lebih dikedepankan, mencari kesamaan diutamakan daripada sibuk terjebak dalam perbedaan,” kata dia.

Syekh Muhammad Faturahman juga terus meningkatkan perekonomian pesantren melalui berbagai usaha.

Salah satunya kehadiran usaha tambak milik Pesantren Idrisiyyah di pesisir Cipatujah dengan memanfaatkan lahan yang tidak produktif diubah menjadi nilai ekonomi tinggi, santri yang menambak di sana mengusung pula konsep dakwah simpatik ajaran Syekh Muhammad Fathurahman.

Lambat laun sedikit demi sedikit, kehadiran tambak udang vaname di sana turut mengangkat martabat masyarakat Cipatujah, khususnya sekitar tambak.

“Setiap aktivitas menambak selalu diawali dengan zikir, sholawat dan do’a secara berjamaah seolah proses tersebut menjadi sebuah Prosedur Operasi Standar menambak, melihat keunikan tersebut, menjadi viral di masyarakat nama udang hasil tambak pesantren Idrisiyyah dengan sebutan ‘Udang Sholawat,” kata Syekh Muhammad Fathurahman.

Syekh menjelaskan, pepatah bijak mengatakan ”keberuntungan” adalah sesuatu yang terjadi ketika kesempatan bertemu kesiapan.

Setelah 3 kali melakukan panen udang buah manajemen profesional yang diiringi zikir, sholawat dan do’a, ternyata rasio panennya lebih unggul jauh dibandingkan hasil panen tambak lainnya di wilayah Pangandaran, Garut dan sekitarnya.

“Ini menjadikan udang hasil panen Qini Vaname menjadi primadona semua pihak, tak terkecuali pemerintah dinas terkait selama ini,” jelas Syekh Muhammad Fathurahman.

Selama 1 dekade di era kepemimpinan Syekh Muhammad Fathurahan, kegiatan Munas dimulai dan dijalan dalam perjalanan pergerakan Idrisiyyah.

Munas berkala menjadi implementasi program keorganisasian yang memadukan kepemimpinan Ilahiyah dengan manajemen profesional.

Setiap Munas menghasilkan ragam struktur organisasi dan kebijakan yang berbeda sesuai dengan bimbingan ilahi, kebutuhan umat dan perkembangan organisasi.

Pergerakan dakwah tarekat yang profesional dibuktikan dengan struktur organisasi yang melibatkan tenaga profesional di bidangnya, bekerja dan mengabdi mengikuti bimbingan Ilahiyah yang paripurna melalui sosok figur Mursyid sebagai ulama pewaris nabi yang berperan membimbing umat di setiap zamannya.

Idrisiyyah sebagai tarekat bermanhaj kenabian berdakwah dengan mengombinasikan kepemimpinan Ilahiyah dan manajemen profesional.

Termasuk di tahun 2020. Tarekat Idrisiyyah kembali bergerak masuk ke dalam perpolitikan bangsa.

Sebagai Mursyid, Syekh Muhammad Fathurahman mendeklarasikan salah satu kader terbaiknya, Ustadz Aka Tazakka Bonanza sebagai wakaf tarekat untuk maju dalam kontestasi pilkada kabupaten Tasikmalaya.

Dalam visi ulama pewaris nabi, kekuasaan itu dijadikan hanya sebagai alat, bukan sebuah tujuan.

Sedangkan yang menjadi tujuan meraih kekuasaan berdasarkan konstitusi adalah mewujudkan kekuasaan yang mendukung hak-hak Allah, agar umat dapat menjalankan ajaran Islam secara kaffah atau sempurna, agar tidak terjadi dikotomi dan pemisahan antara kehidupan dunia dengan orientasi kehidupan akhirat atau antara agama dengan kehidupan. Agama dan kehidupan merupakan satu kesatuan yang tak dapat dipisah-pisahkan.


“Visi Mursyid Idrisiyyah dalam politik adalah berupaya mewujudkan tujuan dan cita-cita Islam dalam berpolitik, karena Islam mengajarkan politik.

Tapi maknanya bukan ‘Islam buat politik’ atau ‘mempolitisasi Islam untuk kepentingan syahwat politik’.

Dalam dakwah politik ini, siapa pun dapat bekerja sama dengan Idrisiyyah dalam rangka visi yang sama mewujudkan kepemimpinan insaniyyah dengan landasan lillah-fillah-billah,” kata dia.

Sepuluh tahun telah dilewati Tarekat Idrisiyyah di bawah kepemimpinan Syekh Muhammad Fathurahman, berbagai program dan langkah dakwah telah dijalankan, maka patut semua bersyukur atas segala karunia ilahi, dari bimbingan sosok mursyid yang diutus untuk umat, telah dirasakan secara zahir dan batin nikmat-nikmat Allah yang tak dapat didustakan, telah wujud kendaraan-kendaraan ibadah bagi kita semua berupa infrastruktur strategis. (ujg/rls)

Be the first to comment on "Satu Dekade Kepemimpinan Syekh Muhammad Fathurahman"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: