Kesuksesan Produk Unggulan Batik Sukapura Kabupaten Tasikmalaya

Pemasaran Digital Bisa Menembus Afrika

MENEMBUS PASAR INTERNASIONAL. Pengrajin Batik Sukapura Nursahbani sukses memasarkan Batik Sukapura hingga ke pasar internasional. Salah satunya ke Afrika

Batik Sukapura sukses menembus pasar internasional. Produk unggulan Kabupaten Tasikmalaya ini kini juga dipasarkan melaui digital. Online.

Batik Sukapura dibuat secara manual itu di Kabupaten Tasikmalaya. Sampai saat ini ada 3 sentra dengan 8 unit usaha.

Mereka tersebar di Desa Sukapura, Desa Janggal Kecamatan Sukaraja dan Cikunir Kecamatan Singaparna.

Sampai saat ini, produk unggulan Kabupaten Tasikmalaya ini menyerap tenaga kerja 56 orang. Pemasarannya sendiri meliputi pasar lokal dan luar negeri.

Salah satu perusahaan pengrajin Batik Sukapura yang saat ini masih terus eksis menerima pesanan yakni Pengrajin Batik Nursahbani di Kampung Pasirkolot Desa Sukapura Kecamatan Sukaraja.

Perusahaan ini setiap bulannya mampu memproduksi 6-10 kain Batik Sukapura secara manual.

Pengrajin Batik Sukapura, Nursahbani mengatakan, sampai saat ini kain Batik Sukapura masih tetap diminati oleh konsumen. Hanya saja saat ini tidak ada regenarasi pengarajinnya.

“Kebetulan saat ini kerajinan batik Sukapura bekerja sama dengan Bank Indonesia untuk lebih dikembangkan lagi,” kata dia.

Sampai saat ini, pemesanan batik yang menjadi produk unggulan Kabupaten Tasikmalaya itu pemesanan terus berjalan, baik untuk pasar lokal maupun luar negeri. “Untuk ekspor sendiri biasanya melalui pesanan,” kata dia.

Saat ini yang memang paling diminati dari kerajinan tradisional Batik Sukapura itu bahan samping dan sarung.

“Untuk pemasarannya memang daerah Cikalong. Termasuk memenuhi pesanan di daerah Jakarta,” kata dia.

Pemesanan untuk luar negeri, kata dia, biasanya melalui online, salah satunya ke Afrika. “Cuma itu harus PO (purchase order, Red),” kata dia.

Pembuatan Batik Sukapura ini selama ini terkendala tidak adanya regenerasi dan juga rumit dalam pekerjaannya yang penggambarannya harus bolak-balik.

“Makanya upaya kami saat ini agar ada regenarasi memberikan pelatihan kepada siswa yang bekerja sama dengan sekolah yang ada di Kecamatan Sukaraja melalui ekstrakurikuler termasuk memberdayakan siswa yang melaksanakan PKL,” katanya.


Adapun model Batik Sukapura tergantung permintaan khusus untuk batik yang dijadikan bahan baju.

“Sampai saat ini kami mampu membuat 4-5 kain dengan panjang 2,5 meter setiap satu bulannya,” kata dia.

Kualitas Batik Sukapura sudah tidak diragukan lagi. Bahkan kualitas itu sudah diakui semua daerah di Indonesia.

“Kualitas ini semakin lama semakin bagus. Bahkan semakin lama, Batik Sukapura ini kainnya sudah rapuh tetapi hasil tulisannya masih tetap bagus, beda dengan batik buatan daerah lain,” kata dia.

Selain kualitas tulisan, Batik Sukapura juga memiliki khas yakni warna biru, merah marun dan gading atau warna-warnanya tidak mencolok.

“Beda kalau batik produk daerah lain biasanya warna-warni seperti batik buatan Kota Tasikmalaya,” katanya.

Biasanya, lanjut dia, batik tulis Sukapura ini dijualnya dalam bentuk kain, bukan bentuk produk jadi. Meski pun saat ini ada beberapa pengrajin memasarkan Batik Sukapura ini dalam bentuk pakaian.

“Kebanyakan memang dipasarkan dalam bentuk kain,” kata dia.Saat ini, Nursahbani dan pengrajin lainnya terus berupaya meningkatkan kualitas dan pemasaran.

Bahkan tidak hanya dipasarkan melalui pasar-pasar tetapi merambah ke penjualan online. “Termasuk kami juga terus meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM),” kata dia.

Nursahbani berharap Batik Sukapura ini terus dilestarikan, termasuk adanya regenerasi pengrajin karena selama ini pengrajin batik tulis tersebut hanya dilakukan oleh orang yang sudah tua, berumur di atas 45 tahun.

“Mudah-mudahan dorongan pemerintah akan peningkatan kualitas, pemasaran dan SDM terus dilaksanakan,” ujar dia berharap.

Sekretaris Daerah Kabupaten Tasikmalaya Dr H Mohamad Zen mengatakan, untuk produk unggulan batik sendiri saat ini menunjukkan progres yang cukup bagus.

Bahkan saat ini sudah dijadikan sampel oleh Bank Indonesia. “Bahkan batik tulis ini memiliki nilai yang cukup bagus dari BI.

Makanya akan terus kita kembangkan lebih luas baik dari segi kualitas maupun pemasarannya,” kata dia bangga.

Sehingga apa yang sudah terbangun dengan BI akan menambah lebih banyak kelompok pengrajin Batik Tulis Sukapura ini.

“Bahkan kami juga akan memfokuskan dengan penambahan modal bagi para pengrajin. Karena sampai hari ini sudah mendapatkan kepercayaan pasar,” katanya.

“Termasuk kebutuhan akan Batik Sukapura ini belum terpenuhi dari jumlah yang sudah kita hasilkan,” ujarnya, menambahkan.


Zen menjelaskan, Pemerintah Kabupaten Tasikmalaya juga akan terus melaksanakan edukasi kepada masyarakat agar batik tradisional unggulan Kabupaten Tasikmalaya ini ada regenerasi.

“Itu terus kami laksanakan melalui pelatihan-pelatihan melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian.

Mudah-mudahan Batik Sukapura ini bisa lebih meningkatkan perekonomian masyarakat,” kata dia berharap.

Kepala Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kabupaten Tasikmalaya Drs H Nana Rukmana MM mengatakan, Batik Sukapura ini komoditas IKM menjanjikan di Kabupaten Tasikmalaya dan terus dikembangkan, baik dari segi kualitas, motif dan juga pemasaran.

“Bahkan kami sudah bekerja sama dengan BI dalam pengembangannya,” kata dia.

Adapun hasil evaluasi tentang produksi Batik Sukapura yaitu tidak adanya regenerasi atau penerus.

“Makanya kami selama tiga tahun ini dengan BI membangkitkan kembali regenerasi itu untuk Batik Sukapura,” kata dia menjelaskan.

Dalam meningkatkan regenerasi itu pemerintah bekerja sama dengan BI mendatangkan desainer dari Jogjakarta.

“Mudah-mudahan batik ini bisa bergerak kembali bangkit dan berkembang,” kata Nana berharap. (ujg)

Be the first to comment on "Pemasaran Digital Bisa Menembus Afrika"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: