Masa Depan Rasa Masa Lalu

Sepeda terbaru Specialized, S-Works Aethos, termasuk sepeda ironis. Bagi produsen yang selama ini paling getol mengkampanyekan #aeroiseverything, sepeda terbaru ini justru mengabaikan konsep itu.

Bentuk frame-nya kembali melengkung tradisional, meninggalkan konsep dropped seatstay, kabel-kabel kembali kelihatan, seatpost standar, kemudian stem dan handlebar kembali terpisah.
Satu-satunya yang bukan “masa lalu” hanyalah disc brake-nya.

Perusahaan asal California ini memang tergolong paling berani melawan arus, mencoba menentukan tren pasar sepeda.

Dulu, mereka benar-benar tergolong paling komitmen dengan konsep aero, menjadi satu-satunya produsen yang punya terowongan angin sendiri di kantor pusat di Morgan Hill.

Kini, di saat konsep sepeda aero dan aero allrounder menjadi “standar” utama road bike, Specialized justru balik arah dan kembali ke tren hampir sepuluh tahun lalu.

Yaitu sepeda yang mengutamakan kualitas berkendaranya. Ringan, kaku, bisa dinikmati di tanjakan, dan tidak ribet perawatannya.

Kembali ke era lama Tarmac, yang bersaing dengan generasi awal Trek Emonda, Canyon Ultimate, Cannondale SuperSix Evo, dan lain-lain.

Bentuk Aethoz pun mengingatkan pada sepeda ringan Cervelo 2013: Rca. Atau bahkan sepeda weight weenie dari AX Lightness, Vial Evo D.

Sepeda-sepeda di mana aero belum jadi tujuan utama! Dalam merancang S-Works Aethos, Specialized memang memburu “rumus lama” sepeda.

Yaitu stiffness to weight ratio. Sekaku mungkin tapi seringan mungkin. Memikirkan lagi kenyamanan (sesuatu yang setengah diabaikan di era aero).

Rupanya, Specialized sendiri sempat ragu dalam meluncurkan sepeda ini. Mengingat komitmen mereka dan seluruh industri sepeda melanjutkan tren sepeda yang benar-benar aero dan racing.

“Sulit bagi banyak orang di tempat kami untuk membuat sebuah performance road bike yang bukan fokus untuk balapan.

Kami khawatir proyek ini akan mendapatkan penolakan dan di-cancel. Jadi, tim kami bekerja secara agak rahasia selama lebih dari setahun.

Tidak ada yang tahu hingga desainnya benar-benar final dan kami membuat frame yang pertama,” ungkap Stewart Thompson, pimpinan proyek road dan gravel di Specialized.

S-Works Aethos pun lahir dengan bentuk yang tradisional. Bentuk bagian-bagian frame-nya dirancang untuk seringan mungkin, tapi sekaku mungkin dan mengutamakan kualitas berkendara (kenyamanan).

Hasilnya adalah frame yang sangat ringan, yang bisa dipandang sebagai frame paling ringan. Dengan berat tak sampai 600 gram.

Bahkan, dikombinasi dengan fork pun tak sampai satu kilogram. Meski demikian, stiffness (kekakuan) bottom bracket dan head tube-nya di klaim setara dengan Tarmac SL7.

Hanya bagian belakang saja yang “kalah” 20 persen. Sebaliknya, bagian belakang juga jadi 20 persen lebih nyaman.

Secara geometri, Aethos sebenarnya masih sama persis dengan Tarmac SL7. Hanya bentuk-bentuknya saja yang sudah ekstrem berbeda.

Apalah sepeda seperti Aethos bakal kembali jadi tren utama? Specialized minimal mampu menggoda lagi pemikiran semua penggemar road bike.

Penggemar yang sudah sejak lama gowes mungkin agak tersenyum, karena Aethos menunjukkan bahwa roda benar-benar berputar.

Yang lama jadi baru lagi. Sedangkan penggemar baru yang fanatik aero mungkin agak “ditempeleng,” diingatkan bahwa kualitas berkendara masih bisa jadi jualan utama di atas aerodinamika.

Penggemar weight weenie sendiri akan seperti “dibangunkan.” Sekarang ada frame baru yang bisa dijadikan bahan garapan.

Membangun sepeda dengan bobot total jauh di bawah 6 kg! Sesuatu yang sangat sulit dilakukan dengan sepeda aero. (mainsepeda)

Be the first to comment on "Masa Depan Rasa Masa Lalu"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: