Pembuang Sampah Dirazia

KEPERGOK. Seorang warga tengah membuang sampah di HZ Mustofa Selasa Malam (13/10). Petugas kebersihan mendapati perilaku tersebut saat melakukan penelusuran, adanya tumpukan sampah di HZ Mustofa.

CIHIDEUNG – Setelah beberapa pekan kontainer sampah di depan Kompleks Ruko Graha, Jalan HZ Mustofa dipindahkan. Nyatanya sejumlah masyarakat masih rutin membuang sampah di lokasi itu, meski sudah tidak ada tempat penampungan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tasikmalaya pun mencoba menelusuri timbulan sampah yang kerap tertumpuk di pagi hari tersebut, selama beberapa malam terakhir.

Diketahui sejumlah pembuang sampah mulai dari warga, bahkan dari rumah makan dengan sengaja membuang sampah di jalan tersebut mengendarai motor, Selasa Malam (13/10) sekitar pukul 21.30.

Sejumlah pembuang sampah itu, mengaku sudah biasa menyimpan tumpukan sampah di lokasi pusat kota tersebut, meski sudah tidak ada bak penampungannya.

Dari wawancara Kepala Bidang Kebersihan DLH Kota Tasikmalaya, Iwan Setiawan. Para pembuangan sampah tidak tahu ada beberapa fasilitas penyimpanan yang sengaja disediakan di seputar kota.

“Kita tadi malam sengaja merazia dari pukul 20.00-02.00. Kami penasaran, padahal di pusat kota, kok masih buang saja, meski tidak ada kontainernya di situ,” kata Iwan kepada Radar, Rabu (14/10).

Menurutnya, petugas pengangkutan terkadang kaget, ketika pagi hari di titik tersebut tiba-tiba terjadi tumpukan sampah.

Mengingat jalan itu merupakan pusat perekonomian masyarakat dan etalase kota yang mestinya dijaga bersama.

“Secara etika maupun estetika, kan kurang elok kalau di sini jadi penumpukan sampah. Maka dulu kita pindahkan kontainer itu, karena kerap menggunung.

Ternyata yang buang bukan toko-toko sekitaran, tetapi dari warga yang berjarak cukup jauh,” keluh Iwan.

Iwan menjelaskan meski tumpukan tetap tertangani di pagi atau siang harinya. Namun, apabila pola pembuangan sampah masyarakat seperti itu, akan terjadi keterlambatan pengangkutan. Ketika armada dan petugas tengah menyisir titik-titik prioritas lain yang harus secara rutin dilayani.

“Sebab, biasanya buang sampah itu saat pertokoan tutup sampai pukul 17.00. Tadi malam saja tiga orang yang kami tangkap tangan dan langsung diberi edukasi.

Padahal, Kelurahan Nagarawangi ini, nyaris 60 persen warganya tidak membayar retribusi sampah, dengan produksi sampah per hari yang sangat tinggi,” tuturnya menjelaskan.

Di sekitaran timbulan sampah itu, DLH sebetulnya telah menyiapkan kontainer di Jalan R Ikik Wiriadinata, roda di setiap RW Kelurahan Yudanegara. Bahkan depo sampah di belakang Mayasari Plaza.

“Tetapi masih saja ada yang buang di sini. Logikanya kan di sini tidak ada lagi tempat menyimpan sampah, dan ini pusat pertokoan, sehingga membuat kami heran,” selorohnya.

Sejauh ini, kata Iwan, persoalan pengangkutan masih terbilang bisa ditangani dengan cepat. Meski terkadang terbatasnya jumlah personel dan armada, menjadi kendala dalam pengangkutan timbulan sampah liar, diluar titik-titik prioritas pelayanan.

“Ketika menghubungi kami, langsung dilayani dan tidak dibiarkan menumpuk. Tetapi kalau polanya seperti ini terus ya mohon maaf, pasti ada keterlambatan pengangkutan dan masyarakat sekitar timbulan kena dampaknya,” kata Iwan. (igi)

[/membersonly]

Be the first to comment on "Pembuang Sampah Dirazia"

Tinggalkan Balasan

%d blogger menyukai ini: